BRIDA Surabaya Olah Sampah Plastik Mangrove Jadi BBM Nelayan 

Pembersihan sampah plastik di kawasan Hutan Mangrove Surabaya. (Diskominfo Surabaya)

Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Surabaya tengah mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik non-ekonomis di kawasan pesisir mangrove menjadi minyak bakar bagi nelayan.

Agus Imam Sonhaji, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, mengatakan persoalan sampah di kawasan mangrove berasal dari aliran sungai dan arus laut saat pasang. Sampah plastik jenis kantong kresek yang rusak kerap tersangkut di sela-sela akar napas mangrove sehingga sulit dievakuasi. Untuk mengatasinya, lembaga ini menggagas pelibatan masyarakat dan pelajar demi mengumpulkan sampah plastik yang tidak memiliki nilai jual tersebut.

“Kalau nelayan saat tidak mencari ikan, bisa mencari sampah plastik di mangrove, nanti diberikan kepada kami untuk diproses. Hasilnya berupa minyak bakar bisa kami berikan lagi untuk bahan bakar motor tempel mereka,” ujar Agus di Surabaya, Sabtu, 27 Juni 2026.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya telah memasang screen penyaring sampah di saluran Kebon Agung. Namun, sampah plastik masih ditemukan menumpuk di kawasan mangrove akibat terbawa gelombang laut. Meskipun rancangan alat pengolahan ini diklaim hampir selesai, Agus mengakui bahwa proses pengembangan teknologi pirolisis tersebut saat ini masih terkendala oleh masalah pendanaan.

Riset Alat Pirolisis Bersama Unesa

Ihwal mekanisme pengolahan, Sekretaris BRIDA Kota Surabaya Mamik Suparmi menjelaskan bahwa teknologi pirolisis difokuskan pada jenis plastik yang selama ini sulit didaur ulang. Berbeda dengan botol plastik yang bernilai ekonomis, sampah plastik berkualitas rendah akan dibakar melalui sistem pirolisis agar kembali menghasilkan minyak. Minyak hasil olahan tersebut nantinya dapat langsung digunakan oleh nelayan sebagai bahan bakar alternatif.

Saat ini, BRIDA telah menjalin kerja sama dengan Fakultas Teknik serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kolaborasi ini berjalan untuk melakukan riset sekaligus mempercepat pengembangan mesin pirolisis ramah lingkungan tersebut. Hingga berita ini ditulis, Kepala DSDABM Kota Surabaya belum memberikan tanggapan terkait efektivitas penyaring sampah di pesisir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan