“Jika belum memiliki pendapatan tetap, maka prinsipnya sederhana: jangan membiayai gaya hidup dengan utang,” tegasnya. Gaya hidup, kata dia, harus mengikuti kemampuan finansial, bukan dipaksakan oleh tekanan sosial.
Lebih jauh, Prof. Rudi mengajak masyarakat memaknai ulang esensi liburan. Liburan berkualitas tidak selalu identik dengan biaya besar. Mengisi waktu dengan hobi, berkumpul bersama keluarga, atau aktivitas yang meningkatkan kapasitas diri justru lebih sejalan dengan tujuan recharge.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan finansial menjelang semester baru, terutama bagi mahasiswa. Kondisi keuangan yang rapuh pasca-liburan berpotensi mengganggu fokus belajar dan stabilitas mental.
Pada akhirnya, refleksi yang ia tawarkan bersifat universal. “Kebebasan finansial bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya,” pungkasnya.***





