Ternyata Bersyukur Meningkatkan Level Kegembiraan dan Kesejahteraan

Ilustrasi ekspresi bersyukur. FOTO: Canva

Kiai Muchtar juga menjelaskan bahwa dalam lafaz “syukur” terdapat tiga titik di atas huruf syin. Penjelasan ini hampir sama dengan penjelasan Al-Ghazali. Titik pertama, menurut Kiai Muchtar, adalah unsur ilmu (ilmun), yang artinya mengetahui.

“Mengetahui” di sini berarti mengetahui sumber nikmat, mengetahui siapa yang memberi nikmat, mengetahui wujudnya nikmat, dan mengetahui untuk apa nikmat itu diberikan.

Bacaan Lainnya

Titik kedua adalah unsur “hal”, yang artinya gembira (farhun) karena diberi kenikmatan, gembira karena diberi tahu wujudnya nikmat, serta gembira karena tahu untuk apa tujuannya nikmat itu diberikan.

Titik ketiga adalah unsur amal (amalun), di mana nikmat ini diamalkan, diwujudkan, direalisasikan dalam kehidupan sehari hari. Mengelola nikmat menurut ridha Allah Swt.

Manunggalnya tiga titik inilah, menurut Kiai Muchtar, yang dinamakan “syukur”. Kurang satu titik saja, kata Kiai Muchtar, bukan dinamakan syukur.

Dalam tradisi Tarikat Shiddiqiyyah sendiri pengamalan syukur bisa dilihat melalui penggunaan kalimat “mensyukuri” atau “tasyakuran” yang selalu dipakai di tiap-tiap acara yang diadakan oleh warga Tarikat, baik yang ada di pusat maupun daerah.

Dengan menjalankan metode syukur tiga titik ini, setiap orang seharusnya mampu menjadi sosok pelayan keimanan, kemanusiaan, dan kealaman.■

Pos terkait