JAKARTA—Philip Watkins, Ph.D., Profesor Psikologi di Eastern Washington University, dan Daniel Schiebe, mahasiswa pascasarjana di bidang psikologi di kampus yang sama, pernah melakukan penelitian tentang rasa syukur dan kegembiraan. Hasil penelitian membuktikan bahwa rasa syukur penting untuk kesejahteraan seseorang.
Dalam laporan hasil penelitian berjudul Hubungan Syukur dan Kesejahteraan Rasa tersebut, Watkhins dan Schiebe memaparkan bahwa syukur sangat terkait dengan sejumlah indikator kesejahteraan seseorang. Orang yang bersyukur, menurut mereka, cenderung lebih bahagia, lebih sehat, lebih tangguh, lebih pro-sosial, dan tidak terlalu narsis.
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi beberapa emosi dan perilaku yang menghambat tumbuhnya rasa syukur. Antara lain sinisme, narsisme, dan iri. Semua perasaan tersebut diperkirakan bakal menurunkan rasa syukur seiring berjalannya waktu. Sinisme dan narsisme juga disebut saling mendukung, di mana keduanya menghambat tumbuhnya rasa syukur.
Penelitian juga mengkaji bahwa syukur kemungkinan bakal meningkatkan kebahagiaan melalui proses kognitif dan proses sosial. Rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan dengan mendorong kebiasaan kognitif tertentu—atau cara berpikir yang menjadi kebiasaan.
Misalnya, menceritakan rasa syukur atau menghitung nikmat yang didapat ternyata bisa meningkatkan kebahagiaan. Hal ini menunjukkan bahwa mengingat berkah dengan cara bersyukur bisa “melatih otak” seseorang untuk memperhatikan dan menghargai hal-hal baik dalam hidupnya.
Cara lain agar rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan adalah dengan meningkatkan makna dalam hidup seseorang. Orang bahagia cenderung memandang hidup mereka bermakna. Rasa syukur meningkatkan kesadaran seseorang akan tujuan dan makna hidup.
Bersyukur juga terkait dengan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bias interpretasi sosial positif . Artinya, orang yang bersyukur cenderung menafsirkan tindakan orang lain dengan cara yang baik. Mereka cenderung melihat orang-orang sebagai orang yang suportif dan pada dasarnya mempunyai niat baik—di mana situasi psikologis tersebut mungkin meningkatkan kesejahteraan emosional mereka.
Penelitian juga menunjukkan bahwa mengalami dan mengungkapkan rasa syukur dapat meningkatkan hubungan masyarakat. Ketika orang merasakan syukur, mereka menafsirkan tindakan orang lain dengan cara yang positif dan mereka ingin membantu orang lain.





