Penelitian juga menunjukkan bahwa rasa syukur mendorong perilaku menolong, meskipun itu harus dibayar mahal. Rasa syukur juga meningkatkan hubungan sosial, inklusi sosial, kerja sama, dan kepuasan hubungan.
Rasa syukur pun memperkuat kebaikan dalam hidup seseorang. Sama seperti amplifier yang menaikkan volume suara yang masuk ke mikrofon, demikian pula rasa syukur meningkatkan volume kebaikan dalam hidup seseorang. Sama seperti kaca pembesar yang memperbesar teks yang menjadi fokusnya, demikian pula rasa syukur secara psikologis memperbesar kebaikan yang menjadi fokusnya.
Syukur dalam Islam
Dalam agama Islam, bersyukur dimaknai sebagai qayyidunniam (قيد النعم), yang artinya, bersyukur merupakan pengikat nikmat-nikmat Allah Swt., agar Allah senantiasa menganugerahkan dan mencurahkan nikmat-Nya kepada kita. Sebaliknya, bila bersyukur dengan cara yang tidak benar, maka bisa masuk kategori kufur—sementara ancaman kufur adalah azab.
Islam juga mengajarkan bahwa kemanusian seseorang bukan diukur oleh seberapa banyak harta kekayaan dan pengetahuan yang dimilikinya, tetapi ditentukan oleh seberapa banyak dan besar syukurnya kepada Allah Swt.
Hal tersebut sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ibrahim: 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menamba (nikmat)-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim: 7).
Sementara itu, dalam ayat lain Allah berfirman, “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Luqman: 12).
“Bersyukur” dalam bahasa Indonesia sering diartikan “berterimakasih”. Namun, dalam bahasa Arab, kata “bersyukur” berasal dari kata “syakur” (شكر), yang bisa bermakna “bertambah”—sebagaimana ucapan orang Arab yang berbunyi اشتكرت السماء, yang artinya adalah “hujan turun semakin deras”.
Pada QS. Ibrahim: 7, lafaz syukur diiringi dengan lafaz yang artinya bertambah (لأزيدنكم). Hal ini menandakan bahwa Al-Qur’an juga memaknai syukur dengan pengertian “bertambah”. Sehingga dari sini pengertian syukur, menurut bahasa Arab, adalah “bertambah”.





