Ternyata Bersyukur Meningkatkan Level Kegembiraan dan Kesejahteraan

Ilustrasi ekspresi bersyukur. FOTO: Canva

Kata “syukur” dan yang seakar dengannya disebutkan sebanyak 75 kali dalam Al-Qur’an. Kitab Suci juga menyebutkan sejumlah arti yang sama—yaitu 75 kali—untuk kata “bala’” atau “musibah”.

Secara bahasa, kata syukr—yang terdiri atas huruf syinkaf, dan ra’—bermakna membuka, menampakkan, menyingkap, dan menunjukkan. Lawannya adalah kafara, yang berarti menutup, menyembunyikan, atau mengingkari.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, dalam  Maqayisul Lughah ditemukan empat makna kata syakaraPertama, adalah pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh seseorang. Ketika mendapat nikmat membaca alhamdulillah, umpamanya.

Kedua, syukr bermakna penuh, lebat, atau subur. Ketika seseorang mendapatkan nikmat dan digunakan untuk kebaikan, maka akan ditambahkan oleh Allah Swt, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ibrahim: 7.

Ketiga, syukur dalam pengertian sikap manusia yang ridha dan puas atas nikmat Allah Swt, baik banyak maupun sedikit.

Keempat, sebagaimana dijelaskan Raghib al-Ashfahani dalam Mufradat-nya, kata syukr juga berarti sebagai upaya untuk mau menampakkan nikmat-nikmat Tuhan ke permukaan dengan tujuan bukan pamer. Dengan demikian, makna syakara dalam hal ini menampakkan nikmat Allah merupakan lawan dari kafara (menutup) atau tidak mau mensyukuri nikmat Allah Swt.

Ilmuwan Islam ternama, Imam Abu Hamid al-Ghazali, menyebut syukur tersusun dari tiga unsur, yaitu ilmu, hal (keadaan), dan amal (perbuatan). Ketiganya, menurut Al-Ghazali, dikenal dengan metode tiga titik syin—yang berarti menyukuri nikmat Allah yang dianungerahkan kepada seorang Muslim dengan memahami tiga titik yang ada pada huruf syin, huruf pertama dalam lafaz syukur bahasa Arab.

Titik syin yang petama adalah “hati” (قلب). Maksudnya, setiap orang yang mendapatkan kenikmatan dari mana saja, apakah ia diberi oleh seseorang atau karena usahanya sediri, maka dalam hatinya ia harus meyakini bahwa apa yang ia dapat semuanya berasal dari Allah, sementara orang yang memberi atau dirinya sendiri hanyalah wasilah atau perantara yang Allah pilih untuk menyampaikan nikmat-Nya pada dirinya.

Ketika orang menjalankan titik syin yang pertama, menurut Al-Ghazali, maka dia telah meningkatkan nilai keimanannya, karena dia telah memahami bahwa semua kenikmatan merupakan anugerah dari Allah Swt. Dengan demikian, dia tidak sombong dan semena-mena menggunakan kenikmatan tersebut.

Pos terkait