Ternyata Bersyukur Meningkatkan Level Kegembiraan dan Kesejahteraan

Ilustrasi ekspresi bersyukur. FOTO: Canva

Namun, bukan berarti seorang Muslim dilarang berterimakasih kepada manusia yang memberinya atau menjadi perantara sampainya nikmat Allah padanya. Sebab, berterimakasih kepada manusia itu dianjurkan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: “Siapa yang tidak berterimakasih pada manusia, maka ia tidak berterimakasih pada Allah.”

Titik syin kedua adalah “lisan” (لسان). Maksudnya, setelah bersyukur dalam hati dengan meyakini segala kenikmatan berasal dari Allah Swt., lalu dilanjutkan dengan beryukur menggunakan mulutnya dengan cara memuji Allah Swt. Misalnya dengan mengucapkan alhamdulillah atas segala nikmat yang Allah berikan, serta menceritakan kenikmatan tersebut. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Q.S.93:11).

Bacaan Lainnya

Anjuran untuk menceritakan nikmat ini bukan kepada orang-orang yang hasut, melainkan menceritakannya kepada kepada orang-orang yang saleh. Sebab, bila diceritakan kepada orang-orang yang hasut, seorang Muslim akan dituduh pamer atau riya’, serta menyombongi mereka. Namun, bila diceritakan kepada orang-orang yang saleh, mereka akan membantu seorang Muslim yang menyampaikan rasa syukur itu untuk menyadari bahwa nikmat yang dia dapatkan sebenarnya merupakan pemberian dan titipan Allah Swt., sehingga seorang Muslim lebih hati-hati dalam menyukurinya.

Titik syin ketiga adalah “anggota badan” (جوارح). Maksudnya, menyukuri dengan tindakan atau menggunakan semua anggota badan yang dimiliki seorang Muslim. Syukur dalam hal ini adalah menggunakan nikmat Allah Swt. yang dianugerahkan kepada seorang Muslim bukan untuk hal-hal yang Allah benci, haramkan, atau maksiat.

Terkait tiga titik huruf syin sebagaimana dijelaskan Al-Ghazali, Mursyid Tarikat Shiddiqiyyah, Kiai Moch. Mukhtar Mu’thi, pernah menjelaskan pada sebuah ceramahnya bahwa kata “syukur” terdiri dari tiga huruf, yaitu syin, kaf, danro’, yang bunyinya syakaro.  Kalau tiga titik syin-nya dihilangkan, menurut Kiai Muchtar, bunyinya menjadi sakaro, yang bermakna mabuk, teler, atau tidak sadar.

Pos terkait