Asap masih mengepul dari reruntuhan bangunan di selatan Teheran ketika suara sirine menggema di Tel Aviv pada Senin dinihari, 16 Juni 2025. Dalam waktu kurang dari 72 jam—sejak serangan pertama Israel pada Jumat dinihari, 13 Juni 2025—Iran dan Israel masih saling melepaskan ratusan rudal dan drone. Memorakporandakan kota-kota.
__________
Ratusan warga sipil dilaporkan tewas dalam konfrontasi itu, dan menyulut kekhawatiran tentang bakal meledanya perang besar di kawasan.
Iran memulai gelombang serangan balasan pada Jumat malam, 13 Juni 2025, setelah serangan udara Israel dinihari sebelumnya menghantam sejumlah fasilitas strategisnya.
Sekitar 200 rudal dan drone dilepaskan ke wilayah Israel. Sistem pertahanan udara Israel memang mampu mencegat sebagian, namun tak semua.
Beberapa proyektil menghantam kawasan padat penduduk di Tel Aviv, Haifa, dan Bat Yam. Korban berjatuhan—termasuk anak-anak.
Israel, yang sejak awal membalas dengan sikap keras, merespons dengan serangan udara skala penuh. Target mereka bukan hanya gudang senjata atau markas militer.
Jet tempur menyasar pusat riset nuklir Iran di Natanz dan Fordow, serta pangkalan Garda Revolusi di Isfahan dan Teheran. Akibatnya, lebih dari 220 orang tewas di pihak Iran. Mayoritas korban adalah warga sipil dan teknisi yang bekerja di fasilitas tersebut.
Diplomasi Macet, Dunia Resah
Amerika Serikat (AS), yang selama ini berdiri di sisi Israel, memilih memainkan kartu kehati-hatian. Presiden Donald Trump dikabarkan memveto rencana Tel Aviv untuk menyerang langsung pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun ia memperingatkan bahwa AS “tidak akan tinggal diam” bila kepentingan nasionalnya terusik.
Sementara itu, negara-negara G7, yang tengah bersiap menggelar pertemuan di Kanada, menyuarakan kekhawatiran. Inggris, Jerman, dan Prancis menarik staf diplomatik mereka dari Teheran dan Yerusalem.
Turki dan Qatar disebut-sebut sedang menjalin komunikasi dengan pihak-pihak di balik layar—yang membuka celah bagi diplomasi tertutup.





