Dengan fondasi yang menancap hingga 50 kaki ke dalam batuan dasar, dinding beton, dan atap tahan api, rumah tersebut dibangun dengan perhitungan matang. “Arsitekturnya bagus,” ujarnya. “Tapi yang benar-benar menyelamatkan adalah atap tahan api itu.”
Ketika fajar menyingsing, istrinya mengirim pesan singkat: “Rumah terakhir yang masih berdiri.” Kata-kata itu sederhana tetapi membekas di hatinya, membawa senyum kecil di tengah bencana besar.
Steiner sadar, bukan hanya desain bangunan yang menyelamatkan propertinya. Di balik setiap tragedi, ada faktor nasib yang tak bisa dijelaskan. Ia bersyukur, tetapi juga menyadari, satu rumah yang selamat tidak menghapus kepedihan dari banyak keluarga yang kehilangan segalanya.
Di luar tembok beton yang kokoh itu, ada duka yang tak terhitung jumlahnya. Dan Steiner, seperti halnya orang-orang lainnya, menyimpan rasa hormat dan empati untuk mereka yang kehilangan rumah, mimpi, dan kehidupan yang pernah mereka bangun.***





