Langit Malibu membara. Kepulan asap hitam menggulung, menelan deretan rumah di sepanjang Pacific Coast Highway. Angin mengangkat abu seperti serpihan mimpi buruk, menyelimuti pemandangan reruntuhan yang berserak. Namun, di tengah kehancuran itu, sebuah rumah putih setinggi tiga lantai berdiri kokoh, seperti simbol ketahanan di tengah malapetaka.
David Steiner, pemilik rumah berukuran 4.200 kaki persegi dengan empat kamar tidur tersebut, menyebutnya sebagai sebuah mukjizat. Bagi sebagian orang, itu tampak seperti keajaiban semata, tetapi bagi Steiner, rumah itu adalah hasil dari desain dan visi yang cermat—dibangun untuk menghadapi gempa bumi.
“Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan dalam sejuta tahun bahwa api bisa melintasi Pacific Coast Highway dan memicu kebakaran besar seperti ini,” ujar Steiner kepada The New York Post, Jumat, 10 Januari 2025.

Jarak memisahkan Steiner dari Malibu ketika kebakaran melanda. Seorang kontraktor setempat mengirimkan video yang menunjukkan kobaran api melalap rumah-rumah di sekitar propertinya. “Sepertinya rumahmu juga akan habis,” ucap sang kontraktor.
Mendengar itu, Steiner bersiap menerima kenyataan pahit: rumahnya akan menjadi abu. Namun, nasib berbicara lain. Ketika api mulai padam dan debu mengendap, gambar-gambar yang muncul di berbagai media membuat Steiner tertegun. Rumahnya tetap tegak di tengah puing-puing hangus di sekelilingnya.
“Saya tidak percaya saat teman-teman mulai menelepon dan mengirim pesan, ‘Kami melihat rumahmu di berita!’,” kenangnya. “Baru setelah saya melihat sendiri, saya sadar kami berhasil melewatinya.”
Steiner mengaku tidak merasa lebih beruntung dari yang lain. “Saya kehilangan beberapa barang material,” katanya. “Tapi banyak orang kehilangan rumah mereka. Jangan doakan saya, doakan mereka.”
Bukan rumah utama
Meski megah, rumah di Malibu itu bukan kediaman utama keluarganya. Tidak ada kenangan masa kecil atau barang-barang yang sarat nilai sentimental di sana. Bagi Steiner, rumah itu hanyalah sebuah bangunan—properti yang dirancang untuk menahan gempa, bukan menghadapi kobaran api.





