Gus Lilur tak sekadar pengusaha sukses pendiri BARONG Grup. Berlatar santri, tokoh asal Situbondo ini vokal mengkritik PBNU, aktif berfilantropi, hingga berani membawa rokok Nusantara merambah pasar dunia. Simak profil lengkapnya.
Lahir dengan nama asli HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, sosok yang akrab disapa Gus Lilur ini merupakan tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) asal Situbondo. FJN (Forkom Jurnalis Nahdliyin) menyebutnya sebagai cicit Sayyid Husein Jumadil Kubro, sebuah garis keturunan yang kental dengan nilai-nilai dakwah dan agama.
Pendidikan agama serta karakter kesantriannya ditempa sejak dini di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, khususnya melalui program unggulan MAN-PK. Ia juga tercatat pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Selepas dari pesantren, Gus Lilur melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan aktif sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebagai figur yang kerap mengidentifikasi dirinya sebagai “Kiai Kampung”, Gus Lilur memegang teguh tradisi Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Identitas ke-NU-annya adalah sesuatu yang mengakar kuat melintasi generasi.
“Saya sudah NU sebelum lahir karena Bapak dan Ibu saya NU. Bapak dan Ibu saya sudah NU sebelum lahir, karena Kakek dan Nenek saya NU. Kakek dan Nenek saya sudah NU sebelum lahir, karena Eyang saya bergabung dengan NU. Saya bangga dan bahagia jika bisa bekerjasama dengan para muda NU,” tegasnya.
Kiprah Bisnis Menggurita hingga Tembus Pasar Global
Di luar identitas keagamaannya, Gus Lilur merupakan seorang pengusaha nasional yang visioner. Ia memimpin konglomerasi bisnis seperti BALAD Grup dan SANTRI Grup yang bergerak agresif di sektor pengelolaan pertambangan, proyek urukan skala besar, hingga perikanan budi daya di wilayah Jawa Timur.
Di sektor perikanan, perusahaannya berhasil meraih terobosan dengan mengantongi 14 dari 16 izin proposal budi daya lobster di Teluk Kangean, sebuah pencapaian yang bahkan sempat membuatnya menunda kunjungan kerja ke China demi mengurus perizinan di Vietnam.
Ekspansi bisnisnya tidak berhenti di level nasional. Gus Lilur mendirikan Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG Grup) dan langsung tancap gas melakukan ekspedisi strategis ke Kuala Lumpur, Malaysia, guna merambah pasar Asia hingga Australia. Melalui agenda besar bernama EPARSIA (Ekspedisi Pasar Rokok Asia–Australia), ia menargetkan pemasaran tembakau Nusantara dan pembangunan pabrik rokok skala global.
“Jika perusahaan rokok dari luar Indonesia bisa menguasai pasar rokok di negeri kita, sepantasnya ada anak bangsa yang berani melakukan hal yang sama. Kita mulai dari Indonesia untuk menaklukkan pasar rokok dunia,” tuturnya penuh optimisme.
Kepedulian Sosial Melalui Filantropi Tanpa Pamrih
Kesuksesan di ranah bisnis berjalan beriringan dengan kepekaan sosialnya yang tinggi. Gus Lilur adalah motor penggerak di balik gerakan filantropi Netra Bangsa Indonesia (NBI). Melalui inisiatif ini, ia rutin membagikan sembako senilai puluhan juta rupiah ke rumah-rumah warga setiap hari Jumat.
Kepeduliannya menjangkau kaum fakir miskin, anak yatim, hingga menyentuh kalangan non-muslim yang membutuhkan.
Dengan menggunakan dana pribadinya, pengusaha tambang ini juga menggelontorkan beasiswa bagi anak-anak dari wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) agar mendapatkan akses pendidikan yang layak. Dedikasi tanpa pamrih ini membuat Gus Lilur dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Muda Nahdliyin Tahun 2023 oleh FJN.
Ketua Umum FJN, Muhamad Didi Rosadi, menyampaikan, “Beliau (Gus Lilur) merupakan kader muda NU yang memiliki jiwa sosial tinggi. Kepedulian beliau tulus dan tanpa pamrih.”
Merespons apresiasi tersebut, Gus Lilur memastikan bahwa aksinya bersih dari motif politik praktis. “Harta dunia ini kan tidak kita bawa mati. Jadi amal baik itulah bekal kita nanti,” ucapnya.
Suara Kritis untuk PBNU dan Dinamika Organisasi
Sebagai kader kultural yang peduli pada marwah organisasinya, Gus Lilur belakangan dikenal vokal menyuarakan kritik tajam terhadap struktural Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menyoroti adanya pergeseran orientasi organisasi dari jalur keulamaan murni ke arah pusaran politik praktis.
Sikap kritis ini melahirkan prinsip yang ia populerkan: “Ber-NU tanpa harus ber-PBNU”. Ia bahkan pernah menjadi perbincangan hangat setelah melemparkan klaim kontroversial mengenai dugaan peredaran aliran dana ratusan miliar rupiah di arena Muktamar ke-35 NU.
Meski tajam melontarkan kritik, Gus Lilur tetap bersikap objektif terhadap dinamika internal kepengurusan. Saat muncul narasi miring “PKB Come Back” menyusul usulan masuknya Lukman Edy sebagai Sekretaris Jenderal PBNU oleh KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), ia maju membela keputusan tersebut.
“Jangan setiap ada nama yang pernah bersinggungan dengan partai politik kemudian langsung dituduh sebagai kembalinya dominasi partai. Itu tudingan yang terlalu sederhana dan tidak berdiri di atas fakta objektif,” jelasnya.
Gus Lilur juga menekankan pentingnya pemerataan representasi daerah dalam struktur PBNU agar tidak terpusat di satu wilayah, memastikan wajah PBNU mencerminkan keberagaman Nahdliyin di seluruh Indonesia.
Kontroversi dan Tantangan Terbuka di Arena Muktamar
Langkah tegas Gus Lilur tak pelak memantik percikan kontroversi, termasuk gesekan hukum. Ia dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri oleh Forum Advokasi Rekonsiliasi Untuk Keadilan (FARUK) atas dugaan penghinaan dan fitnah terhadap Gus Kikin melalui sebuah siniar. Laporan tersebut menuduh Gus Lilur telah memfitnah kemampuan Gus Kikin dalam hal mengaji.
Gus Lilur, yang secara terbuka mengakui identitasnya sebagai mantan narapidana kasus SMS-ITE, tidak memilih langkah mundur.
Ia merespons tuduhan tersebut dengan melayangkan tantangan terbuka yang mengejutkan publik. Gus Lilur menantang empat tokoh besar NU—Rais Aam PBNU Miftahul Akhyar, Gus Kikin, Saifullah Yusuf, dan Nusron Wahid—untuk mengikuti uji kemampuan mengaji sekaligus “ngarang kitab” secara langsung di arena Muktamar NU.
“Berhubung saya dipidana karena dituduh memfitnah Gus Kikin gak bisa ngaji, tentu saya harus membuktikan bahwa Gus Kikin gak bisa ngaji,” tegas Gus Lilur. Ia menambahkan, “Kalau ternyata keempatnya gak bisa ngaji, saya minta mereka mondok di Pesantren Tambak Beras lokasi Muktamar NU sampai bisa ngaji.”
Langkah frontal ini mempertegas posisinya sebagai tokoh yang tidak ragu berhadapan dengan elite organisasi demi membuktikan integritas dan kompetensi keilmuan pesantren.***





