Klaim pengembalian duit Rp1 miliar oleh KH Said Aqil menguak dugaan politik uang di Muktamar NU. Tulisan Dahlan Iskan memantik desakan transparansi pengamat.
Tokoh pengungkap dugaan gratifikasi Muktamar NU, Haji Raden Muhammad Kholilur Abdullah Sahlawy, menyatakan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj berencana mengembalikan uang titipan sekitar Rp1 miliar. Uang tersebut diakui diterima pasca-Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.
“Kira-kira kemarin lusa saya ditelepon oleh Buya Said Aqil Siroj, guru saya, agar saya mengomunikasikan rencana pengembalian uang yang Buya terima setelah selesainya muktamar,” ujar pria yang akrab disapa Gus Lilur tersebut kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Sebelumnya, uang itu disebut merupakan titipan dari seseorang yang penting di Republik Indonesia dan dibawa oknum berinisial HD dari kalangan intelijen. Ihwal pengembaliannya, rencana penyerahan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) urung dilakukan lantaran dialihkan kepada mantan Ketua Panitia Muktamar Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.
Sorotan Tulisan Dahlan Iskan dan Internal NU
Polemik ini semakin panas setelah tokoh pers Dahlan Iskan menulis catatan harian bertajuk ‘Debat Muktamar’ yang mendokumentasikan kesaksian Gus Lilur. Tulisan yang viral di media sosial kaum nahdliyin itu merinci bagaimana KH Said Aqil dan kiai utama lainnya menerima dana pascapemilihan usai.
Merespons membesarnya bola salju tersebut, Redaktur Majalah Ar-Risalah PBNU Mukhlas Syarkun menilai Nahdlatul Ulama telah menjadi korban penguasa yang menguasai kepanitiaan muktamar. Ia menyorot masuknya pejabat negara seperti Gus Ipul dan Nusron Wahid yang membuat isu merembet ke lembaga antirasuah.
“Menurut saya, tiga orang ini harus bertanggung jawab soal isu duit yang ramai di medsos,” tegas Mukhlas.
Desakan Transparansi Pengamat BRIN
Selain itu, dugaan aliran dana ratusan miliar dalam hajat tertinggi organisasi masyarakat Islam ini memantik reaksi serius dari kalangan akademisi. Peneliti utama pusat riset politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Firman Noor meminta persoalan tersebut diperjelas agar tidak terus berkembang menjadi polemik abu-abu di masyarakat.
“Memang sekarang kan kayaknya masih, benar nggak nih? Iya, antara benar dan siapa pun,” kata Firman saat menanggapi pusaran isu tersebut.
Untuk mencegah disinformasi, ia mendesak para pihak terkait untuk segera membuka fakta yang sebenarnya ke hadapan publik.
“Karena itu, pihak-pihak yang mengetahui persoalan tersebut perlu memberikan penjelasan,” ujar Firman.***





