Wali Kota Surabaya memperkuat koordinasi dengan Dinas Pendidikan setelah insiden kekerasan dan peledakan di SMAN 72 Jakarta Utara untuk memastikan Kota Pahlawan tetap aman bagi seluruh pelajar.
Tragedi di SMAN 72 Jakarta Utara—dugaan bullying yang berujung insiden peledakan—langsung memantik perhatian serius Pemerintah Kota Surabaya. Wali Kota Eri Cahyadi tak menunggu lama. Ia menggerakkan Dinas Pendidikan untuk memperkuat seluruh mekanisme pencegahan kekerasan di sekolah-sekolah Surabaya.
Karena luka pada anak bisa menetap lama. Kadang menjadi trauma. Kadang berubah menjadi dendam.
“Peristiwa seperti itu membahayakan, apalagi jika anak memiliki jiwa dendam atau menjadi korban bullying. Hal ini harus menjadi perhatian serius,” ujar Eri, Ahad (16/11/2025).
Eri tidak bicara normatif. Ia mendorong langkah-langkah yang bisa dipraktikkan hari ini juga. Salah satunya lewat kegiatan penyatuan antar-siswa lintas sekolah, lintas agama, lintas etnis—sebuah ruang aman tempat anak-anak bisa saling mengenal.
“Untuk mencegahnya, kami akan mengadakan berbagai acara dengan Dinas Pendidikan untuk menyatukan anak-anak dari semua agama dan etnis,” jelasnya.
Di titik ini, pesan Eri terasa sangat terang. Ia ingin Surabaya menjadi kota yang anak-anaknya aman tumbuh tanpa bayang-bayang kekerasan. Tanpa rasa takut datang ke sekolah.
Karena kalau sampai bullying dibiarkan, efeknya bisa panjang—ke mental, ke masa depan, ke karakter mereka sebagai generasi baru.
“Tidak boleh ada bullying. Hal ini harus dihindari dengan segala cara, karena menyangkut psikologis dan masa depan generasi muda kita,” tegas Eri.***





