15 Siswa SMP Positif Narkoba di Surabaya: Pemkot Kerahkan Operasi Jalan Kunti dan Tes Acak di Sekolah

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. - Samudrafakta/Kontributor
Pemkot Surabaya mengambil langkah darurat setelah 15 siswa SMP terdeteksi menggunakan narkoba, dengan fokus pada pemutusan jaringan peredaran dan pengawasan ketat lintas sekolah.

Temuan 15 siswa SMP yang positif menggunakan narkoba di kawasan Jalan Kunti kembali membuka luka lama Surabaya: peredaran barang haram yang tak kunjung tuntas di titik-titik rawan kota. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pemerintah tidak akan berhenti pada urusan rehabilitasi siswa. Akar masalahnya akan disapu dari sumbernya.

“Langkah pertama adalah membedakan status hukum mereka,” kata Eri saat dimintai keterangan, Minggu (16/11/2025). Ia menjelaskan, siswa yang terbukti hanya sebagai pemakai akan mendapat rehabilitasi penuh tanpa risiko dikeluarkan dari sekolah. Namun jika ditemukan yang berperan sebagai pengedar, pemkot tetap akan mengutamakan pemulihan dan pendampingan ketat.

“Kita pulihkan kembali, kita kuatkan kembali agar anak ini punya semangat lagi untuk menjadi orang yang baik,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Eri tidak menahan nada kerasnya ketika menyinggung tanggung jawab orang tua. Menurutnya, kasus ini mencerminkan kegagalan lingkungan terdekat anak.

“Bagaimanapun mereka ini, anak yang salah asuhan. Tidak bisa seorang anak itu dibebankan kepada guru. Yang terdekat adalah orang tua,” tegasnya.

Operasi Jalan Kunti Dimulai, Pos Terpadu Dijaga 24 Jam

Pemkot kini menyorot Jalan Kunti sebagai titik yang harus diamankan habis-habisan. Kawasan ini sudah bertahun-tahun dikenal sebagai lokasi transaksi narkoba, dan kasus terbaru ini hanya menambah daftar panjang.

Eri mengumumkan pembentukan pos terpadu di Jalan Kunti yang dijaga gabungan BNN, Satpol PP, dan aparat kota. Pos ini tidak hanya bertugas mengawasi, tetapi menjadi ruang operasi yang memungkinkan pemantauan dan penindakan setiap hari.

“Akan ada pos terpadu yang dijaga BNN dan Satpol PP. Pos ini pusat koordinasi untuk operasi rutin. Tapi waktunya tidak kita ekspos,” kata Eri.

Ia menegaskan operasi tidak boleh berhenti dalam hitungan hari. “Ini tidak bisa sehari, dua hari karena ini sudah tempat yang lama. Dibutuhkan konsisten dan komitmen dari kepolisian, BNN, Pemkot, dan warga,” katanya.

Pos terkait