Sukarno, Penggila Durian yang Mewariskan ‘Varian Baru’

Marshall Green (paling kiri) bersama Sukarno dan Dubes Meksiko Albaran pada peletakan batu pertama UI Ciputat, 28 September 1965. (Foto Historia, Repro. Dari Sukarno ke Soeharto).

Selain durian Bengkulu, menurut Reza, Sukarno juga suka durian hepe–yang berarti “biji kempis”. Karena itulah, menurut pemilik Kebun Wa’ Reza di Bogor, Jawa Barat ini, orang juga kerap menyebut durian hepe dengan nama durian Bung Karno.

Bung Karno kerap menikmati durian hepe ketika istirahat di Istana Batu Tulis, Kota Bogor. Cita rasanya dominan pahit. Daging buahnya putih dan tebal. Setelah beberapa menit mangonsumsi durian hepe, biasanya tenggorokan terasa hangat, lalu perut panas.

Lingkar batang pohon durian hepe melebihi satu pelukan orang dewasa. Sayangnya, durian hepe dinilai kurang menyebar luas di Tanah Air karena rasa pahitnya terlalu dominan. Hanya penikmat durian tulen yang menyukai rasa pahit yang kuat.

Bacaan Lainnya

Rikard Djegadut, dalam Tumbuh Subur di Indonesia, Asal Usul Durian Monthong Asal Thailand, yang dilansir oleh indonews.id pada Ahad, 25 September 2022 menulis, pada awal tahun 1960-an Bung Karno diberi hadiah bibit durian oleh Raja Thailand. Jenisnya ada dua, yakni montong dan chane.

Kado ini diberikan kepada Sukarno karena Raja Thailand yang hobi bertani tahu Bung Karno penggemar berat durian. Dua jenis durian Thailand itu ditanam di halaman Istana Bogor, di sebelah barat istana, dekat Gereja Zebouth. Kedua pohon itulah yang kemudian menjadi cikal-bakal keturunan varian yang menyebar ke seluruh pulau di Nusantara.

‘Ngerjain’ Dubes AS

Sukarno juga pernah “melibatkan” durian dalam kehidupan politiknya. Dia pernah ‘ngerjain’ Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green, dengan si raja buah. Green–yang tak begitu akrab dengan Sukarno–disuruh Bung Karno makan durian di depan banyak orang. Padahal, Green sangat benci durian. Dia tidak suka bau buah itu.

Kejadian berlangsung pada 28 September 1965. Ketika itu Green diundang Bung Karno dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Universitas Indonesia Ciputat. Selain Green, Sukarno juga mengundang Duta Besar Meksiko, Albaran Lopez. Mereka duduk di atas panggung.

Green mengaku sadar bahwa Sukarno bakal melakukan apa yang disebutnya sebagai “siasat untuk mempermalukannya” dalam acara tersebut. Dan benar saja, Sukarno mengambil durian, lalu membawanya ke atas panggung, lalu disajikan di hadapan Green. Sang Dubes disuruh makan durian.

“Sukarno memimpin paduan suara mahasiswa, ‘Makan, makan.’ Lalu saya terpaksa menelan makanan yang menjijikan itu, demi kehormatan saya. Rekan saya dari Meksiko terhindar dari cobaan berat ini. Inilah pertemuan terakhir saya dengan Sukarno. Saat itu suasana terasa hampir meledak,” kata Green.

Kejadian itu menjadi pengalaman buruk terakhir Green di Indonesia. Dua hari setelah itu, pecah peristiwa Gerakan 1 Oktober (Gestok) 1965. Kekuasaan Sukarno terus melemah dan sebaliknya, posisi AS menguat seiring berdirinya rezim Orde Baru. Green terus menjabat sebagai duta besar hingga 1969.◼︎

 

Pos terkait