Investasi Bibit Rp15 Juta, Petani Durian Bawor Blitar Sudah Panen 15 Kali

Dua orang pengunjung menikmati wisata di kebun durian bawor milik Suwaji di Kesamben, Kabupaten Blitar. Kebun durian ini sudah panen 15 kali sejak tanam bibit durian bawor pada 2013 lalu. (Dok. Suwaji)

BLITAR — Pohon durian jenis bawor dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mulai panen raya. Bibit durian bawor yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah, ini sukses ditanam petani durian di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.

“Saya tanam bertahap hingga 50 pohon pada 2013 lalu. Sekarang, alhamdulillah sudah panen ke-15 kalinya,” ungkap Suwaji, petani durian kepada Samudra Fakta, Rabu (28/2/2024).

Menurut Suwaji, 50 pohon durian tersebut ditanam di lahan yang tidak terlalu luas sekitar 100 meter persegi. Bibit yang ditanam adalah durian bawor dengan jumlah kaki tiga dari Banyumas. Tahap pertama pada tahun 2013, ditanam sebanyak 30 pohon. Kemudian secara bertahap hingga menyentuh jumlah 50 pohon. “Yang berbuah maksimal sekitar 30 pohon. Saya investasi Rp15 juta, dan sudah balik sekitar Rp150 juta,” tutur penggiat tanam durian bawor di Kabupaten Blitar ini.

Menurut Suwaji, pemasaran durian bawor dari Blitar tidak kesulitan. Sebab permintaan pasar pada bulan-bulan ini selalu tinggi, sedangkan buah durian bawor masih terbatas. Buah-buah yang sudah jatuh dari tangkai lantas dipasarkan secara online. Para pembelinya ada yang dari Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya. “Yang menjualkan anak saya. Ketika buahnya sudah putus dari tangkai, lantas difoto kemudian diposting di media sosial. Begitu seterusnya penjualan buah durian bawor,” tutur Suwaji.

Petani durian bawor di Kabupaten Blitar mulai menggeliat. Suwaji sudah punya binaan sekitar 25 petani yang tersebar di seluruh wilayah di Kabupaten Blitar. Ada yang Desa Butun, Kesamben, Sembung, Nglegok, Papungan, Jambe Pawon.

Total pohon yang ditanam petani durian sudah mencapai 1000 pohon. Bibit durian bawor dari Suwaji ini memang istimewa. Sebab, dengan perawatan dan pemumpukan rutin, dalam jangka tiga tahun sudah berbuah. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik terdiri dari srintil, EM4, garam, dolomit, dan tetes tebu.

“Pengembangannya, saya bekerja sama dengan petani yang punya lahan kosong. Saya yang bagian pemeliharaannya, Setiap petani ada yang menanam 50 pohon, 100 pohon, dan 150 pohom. Saya juga menjual bibit durian bawor harganya Rp500 ribu,” tutur Suwaji.

Muharno, petani padi asal Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, yang juga menanam bibit durian bawor dari Suwaji sudah merasakan panen. Kebun miliknya seluas 50 meter persegi di Desa Jiwut sudah ditanam 25 bibit pohon durian dari Suwaji. “Tahun 2024 ini sudah berbuah. Tapi belum maksimal karena panen perdana,” kata Muharno.

Muharno sebenarnya satu angkatan dengan Suwaji dalam menanam durian. Namun sayang, dua pohon durian bawor yang ditanam pada 2013 mati karena terkena pupuk kandang sapi. “Tapi pohon yang berbuah ini, kami pupuk dengan pupuk berbeda. Alhamdulillah, kini sudah berbuah,” tuturnya.

Muharno dan Suwaji berharap pohon durian bawor yang ditanamnya terus berbuah sehingga menjadi tabungan di hari tua. Keduanya juga berharap buah durian ini bisa diteruskan oleh anak-anak hingga cucunya kelak.