Presiden Pertama Indonesia, Sukarno, hobi berat makan durian. Dia meninggalkan warisan ‘varian baru’ durian dari Bengkulu. Buah dengan kulit berduri ini ‘mewarnai’ berbagai sisi kehidupannya, mulai dari urusan pribadi hingga politik.
Guntur Soekarnoputra, dalam bukunya, Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku (1977), menulis bagaimana ayahnya mengajarkan dia untuk memilih durian. “Pelajaran” itu, salah satunya, didapat Guntur pada suatu ketika seusai makan bersama.
“Jadi, Bapak ulangi! Satu, periksa tangkainya! Dua, lihat duri-durinya! Tiga, cium baunya dari sebelah pantat. Kalau ketiga-tiganya baik, itu tandanya duriannya jempolan! Nanti kau bisa buktikan setelah durian-duriannya ini Bapak pilih terlebih dahulu,” begitulah Sukarno “presentasi” di depan putra sulungnya.
Rupanya durian yang dipilih Sukarno mengecewakan. “Yaaa, Pak… Kok, duriannya busuk! Duiiillaaahh! Gimana sih Bapak milihnya?” Guntur memprotes.
Tetapi, bukan Sukarno kalau tak bisa berkelit. “Ndak tahulah! Sekali ini Bapak meleset pilih durian! Uh … Ini durian mungkin jenis baru,” kilah Sukarno.
“Emangnya jenis apa, Pak?” tanya Guntur.
“Jenis durian … kontra revolusi!”

‘Varian Baru’ bernama Durian Sukarno
Selama menjalani pengasingan di Bengkulu, tahun 1938, Sukarno menyewa rumah milik seorang Tionghoa di Kampung Anggut Atas. Di sana Bung Karno dikenal sebagai pemilih durian masak dan berdaging tebal yang andal.
Mengutip catatan M. Ali Chanafiah, Bung Karno kerap meminta tolong orang tua Ali untuk memborong buah durian. Ketika musimnya tiba, Sukarno bisa mendapatkan durian satu gerobak dengan uang satu ringgit.
Sukarno juga mewariskan durian di Bengkulu, yang oleh masyarakat sekitar disebut “durian Sukarno”.
Kisah tentang durian Sukarno ini dikisahkan oleh Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata, MS., pakar buah tropis jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB). Mohammad Reza berhasil meraih gelar master berkat durian, di mana dia mengangkat tesis King of Tropical Fruit. Gelar doktornya pun tak jauh-jauh dari durian. Dia menyelesaikan disertasi yang membahas durian berjudul Queen of Tropical Fruit.
Menurut Mohammad Reza, saat dibuang Belanda ke Bengkulu–di mana dalam pembuangan itulah dia berjumpa dan berjodoh dengan Fatmawati—Sukarno menanam biji-biji durian sehabis menikmati daging buahnya yang manis-legit. Biji-biji itu pun tumbuh dan berbuah sebagaimana karakter dasar induknya: legit, manis, dan kering. Karena pohonnya ditanam oleh Bung Karno, masyarakat pun menyebutnya sebagai “durian Sukarno”.
“Dari biji-biji buah pohon yang tumbuh di Bengkulu, dan dirujuk masyarakat sebagai durian Sukarno itu, kami menanamnya sebagai tanaman koleksi Kebun Buah Mekarsari,” kata Mohammad Reza.
Reza sendiri pernah menjabat sebagai Direktur R&D Mekarsari Research Station, Bogor, yang kini dikenal sebagai Taman Wisata Mekarsari.





