Sukarno Hobi Rayakan Maulid, Ibaratkan Muhammad sebagai Bunga Terindah

_____

Menurut sebuah versi sejarah, Sukarno gandrung Maulid setelah menerima nasihat dan didikan dari Habib Ali Kwitang. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945, Bung Karno sempat tinggal dan “nyantri” di Habib Ali Kwitang selama 4 bulan. Dia nyantri itu atas usulan M. Husni Thamrin, untuk menghindari ancaman Jepang dan Belanda.

Bung Karno aman selama tinggal di kediaman Habib Ali. Sebab, Habib Ali adalah tokoh Muslim kharismatik yang sangat dihormati oleh lawan maupun kawan, termasuk Belanda.

Bacaan Lainnya

Selama tinggal di rumah Habib Ali, Bung Karno menghadiri berbagai aktivitas keagamaan yang diprakarsasi sang habib. Konon, sebelum Sukarno bertemu Habib Ali, dia adalah orang yang tidak akrab dengan tahlil dan Maulid Nabi Saw. Namun, berkat didikan Habib Ali, Bung Karno pun “menjadi santri” yang senang tahlilan, mauludan, dan pakai sarung.

Sementara itu, ide Sukarno untuk merayakan Maulid Nabi secara besar-besaran di Istana Negara muncul setelah mengikuti Mauludan di Kairo, Mesir, pada tahun 1955. Acara itu sangat megah dan meriah.

Seusai acara, Sukarno—yang sepertinya tak mau kalah—bercerita kepada Presiden Mesir Gamal Abdul Naseer jika Maulid Nabi juga dirayakan secara besar-besaran oleh raja-raja di Indonesia. Padahal, ketika itu Istana Kepresidenan RI belum pernah menyelenggarakan acara semegah itu. 

“Di Kairo itu saya tidak berhenti-berhenti ingat. Wah, ini bulan Maulid, kita nanti di Jakarta harus mengadakan peringatan maulid yang sebaik-baiknya,” Bung Karno mengenang momen tersebut dalam pidato Peringatan Maulid Nabi di Istana Negara pada 6 Agustus 1963.

Setelah dari Mesir itu pula Sukarno meminta agar Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri menyelenggarakan Maulidan secara besar-besaran secara rutin di istana Merdeka, Jakarta. Kebiasaan itu pun berlanjut hingga kini. Setiap Presiden RI selalu memberikan sambutan kenegaraan dalam acara ini.

Kebiasaan Sukarno merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. dipercayai oleh sebagian orang mendatangkan berkah bagi Sukarno, bahkan setelah dia meninggal.

Al-Habib Abu Bakar bin Hasan Al-Athos Azzabidi, ulama yang dekat dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pernah mengatakan jika makam Bung Karno ramai dikunjungi banyak orang sampai saat ini karena Bung Karno sangat memuliakan Nabi Muhammad Saw.

(Wijdan | Dirangkum dari berbagai sumber)

Pos terkait