Sukarno Hobi Rayakan Maulid, Ibaratkan Muhammad sebagai Bunga Terindah

Kesembilan, pada 22 Juli 1964, peringatan Maulid Nabi kembali diadakan di Istana Negara, Jakarta. Pidato Sukarno pada acara tersebut, yang bertajuk Amanat Presiden Sukarno pada Peringatan Maulid Nabi Mohammad SAW. di Istana Negara, Djakarta, 22 Djuli 1964, tersimpan di Monash Collections.

Kesepuluh, pada 15 September 1964, Peringatan Maulid Nabi juga diadakan di Istana Negara. Dan peringatan kesebelas, pada 12 Juli 1965, pun digelar di Istana.

Keduabelas, acara Maulid Nabi juga diadakan di Istana Negara pada 1 Juli 1966. Inilah perayaan Maulid terakhir Sukarno sebagai Presiden RI. Pidatonya kali itu tertuang dalam satu lembar kertas konsep, yang hingga kini disimpan di gedung Arsip Nasional RI di Nomor 888.

Bacaan Lainnya

Dalam momentum ini, Sukarno menyebut bahwa Muhammad Saw. adalah manusia teragung yang pernah hidup di kolong langit. Muhammad, menurut Sukarno, ibarat bunga dalam buket atau rangkaian bunga yang indah sekali. Ada bunga putih, merah, biru, ada bunga kecil-kecil, dan ada yang mencolok besarnya. Seluruhnya adalah satu buket yang cantik, indah, dan menakjubkan. 

Namun, kata Sukarno, dari berbagai macam bunga dalam buket itu, ada satu yang paling dia kagumi.Itulah Muhammad. “Bunga” yang paling indah dan paling dihormati di antara manusia di muka bumi ini.

“Kalau ditanya kepada saya, Muhammad yang saya kagumi itu apa toh? Kok Bung Karno kagumi mati-matian. Apanya?” kata Sukarno, dalam pidato itu.

Dia menjawab pertanyaannya sendiri dengan menceritakan mengenai falsafah hidup yang ia anut. “Falsafah hidup saya ikuti, gemari, yaitu saya anggap Muhammad itu, baik di dalam badaniahnya maupun di dalam kepemimpinannya, maupun di dalam tindak tanduknya, menonjolkan satu sifat hebat, yaitu aku akan sebut dengan satu perkataan, kejantanan, kelaki-lakian,” katanya

“Saya minta para wanita jangan lantas: wah, ini menghina kepada wanita ini! Kok yang diagungkan oleh Bung Karno kejantanan, kelaki-lakian? Saya minta maaf kepada Saudara-saudara kaum wanita, barangkali Saudara-saudara sudah mengerti apa yang saya maksudkan dengan kejantanan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kelamin. Has nothing to do with sex. Tidak!” 

“Yang saya maksudkan dengan kejantanan,” lanjut Sukarno “ialah sikap kekuatan pejuang, kejantanan, sentosa. Itu yang saya maksudkan.”

Sukarno, dalam pidato itu, juga menguraikan bagaimana Muhammad memimpin perjuangan di Makkah dan Madinah. “Ibaratnya, Muhammad pun menyemir sepatu sendiri. Bukan orang ndara, ningrat yang memerintahkan menyemir sepatunya. Tidak! Kadang-kadang dia pikul air sendiri.” 

Pos terkait