Sukarno Hobi Rayakan Maulid, Ibaratkan Muhammad sebagai Bunga Terindah

Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno adalah pengagum Nabi Muhammad Saw. Dia hobi mengikuti maupun menyelenggarakan perayaan hari kelahiran panutan umat Islam itu. Sukarno mengibaratkan Muhammad adalah bunga paling indah dalam sebuah buket yang berisi berbagai macam bunga.

Menurut catatan Samudra Fakta, Sukarno beberapa kali menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di beberapa lokasi. Tetapi, yang paling sering ya di Istana Negara, Jakarta.

Perayaan Maulid Nabi pertama di Istana berlangsung pada 2 Januari 1950. Gagasan perayaan muncul setelah Sukarno pulang dari Yogyakarta—yang waktu itu masih menjadi Ibukota Indonesia—ke Jakarta, lima hari setelah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Pemerintah RI.

Perayaan berlangsung meriah. Mengundang perwakilan negara tetangga. Menteri Agama dan ulama kesohorwaktu itu, Wahid Hasyim dan Buya Hamka, naik podium untuk memberikan ceramah.  

Bacaan Lainnya

Perayaan Maulid Nabi kedua di Istana Negara berlangsung pada tahun 1953. Momen tersebut terekam dalam buku karya Firdaus A.N. berjudul Dari Penjara ke Meja Hijau (1967). Firdaus adalah pengagum pemikiran dan perjuangan Sukarno. Namun, dinamika politik membuatnya berbalik arah menjadi pengkritik gaya kepemimpinan Sukarno.

Ketiga, pada tahun 1956, Sukarno menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Masjid Besar Cianjur, Jawa Barat. Momen tersebut terekam oleh sebuah video dari Youtobe Arsip Nasional Republik Indonesia Tahun 1956.  

Keempat, pada 15 September 1959, Maulid Nabi kembali dirayakan di Istana Negara. Berdasarkan data Arsip Pidato Presiden Republik Indonesia Ir. Sukarno Tahun 1958-1967, dalam peringatan tersebut Sukarno berpidato dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

Kelima, Maulid Nabi Muhammad dirayakan di Istana Negara pada 3 Oktober 1960. Versi lain ada yang menyebutkan 3 September 1960. Pada momen tersebut, Sukarno—dalam pidatonya—menyebut Muhammad Saw. adalah great men yang tidak dilahirkan dari sejarah bangsa Arab, melainkan sejarah zaman.  

Keenam, Maulid dirayakan pada 24 Agustus 1961, bersamaan dengan upacara pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal Jakarta.

Ketujuh, Perayaan Maulid Nabi kembali digelar di Istana Negara pada 13 Agustus 1962.

Kedelapan, Perayaan Maulid Nabi digelar pada 6 Agustus 1963. Kali itu tidak diadakan di Istana Negara, melainkan di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Dalam acara tersebut, Sukarno mengatakan jika Maulid Nabi bukan perayaan biasa yang diadakan hanya untuk memperingati kelahiran seorang nabi.  

“Kita sekarang ini merayakan Maulid. Maulid Nabi. Apa sebenarnya yang kita rayakan? Bukan sekadar Muhammadnya. Bukan sekadar dia itu dulu Nabi. Tidak! Yang kita rayakan sebenarnya ialah ajaran, konsepsi, agama yang ia berikan kepada umat,” kata Sukarno.

“Oleh karena itu, kita berkata, jikalau benar-benar engkau cinta Muhammad; jikalau engkau benar-benar merayakan Maulid Muhammad ibn Abdullah; jikalau engkau benar-benar merayakan; kerjakanlah apa yang ia perintahkan. Kerjakanlah apa yang agama ia bawa!” tegasnya.

Pos terkait