Sri Lanka Terapkan Jatah BBM 20 Liter per Minggu, Harga Naik 33 Persen Imbas Perang Iran

Antrean di sebuah pom bensin di Kandy, Sri Lanka. —  Al Jazeera
Sri Lanka tetapkan jatah BBM 20 liter/minggu untuk tuk-tuk, harga naik 33 persen imbas perang Iran dan blokade Hormuz.

Krisis energi melanda Sri Lanka setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Iran merespons dengan menghentikan sebagian besar lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang dilalui 20 persen minyak dan gas dunia.

Mengutip laporan Al Jazeera, Sri Lanka yang mengimpor 60 persen kebutuhan energinya—sebagian besar melalui Selat Hormuz—kini menerapkan sistem jatah bahan bakar berbasis kode QR, sama seperti saat krisis ekonomi 2022. Pemerintah juga menaikkan harga BBM sekitar 33 persen sejak perang dimulai.

Beban Pemerintah: Rugi Rp1 Triliun per Bulan

Meskipun harga BBM dinaikkan, pemerintah Sri Lanka justru menanggung kerugian USD 63 juta per bulan (sekitar Rp1 triliun). Seorang pejabat Kementerian Energi Sri Lanka yang berbicara tanpa nama menjelaskan bahwa kenaikan harga di dalam negeri sengaja dibuat lebih rendah daripada kenaikan harga internasional.

Bacaan Lainnya

“Ini untuk mencegah lumpuhnya transportasi dan hilangnya lapangan kerja. Subsidi ini lebih murah daripada kerugian ekonomi jika harga penuh dibebankan,” jelas pejabat tersebut.

Pemerintah juga menerapkan kebijakan tanpa kerja pada hari Rabu, dengan menutup kantor pemerintah dan sekolah untuk menghemat konsumsi BBM.

Infografis dibuat menggunakan Gemini AI.
Harga Pangan Diprediksi Naik 15 Persen

Para peneliti di Kiel Institute for the World Economy memperkirakan harga pangan di Sri Lanka akan naik 15 persen karena hampir setengah pasokan urea dunia berasal dari Selat Hormuz. Pupuk urea merupakan bahan baku penting bagi pertanian.

Menteri Kabinet Nalinda Jayatissa menyatakan bahwa meskipun tarif bus naik 12 persen akibat kenaikan harga BBM, tarif akan diturunkan kembali jika harga BBM turun.

Upaya Alternatif: Rusia dan Iran

Pemerintah Sri Lanka saat ini sedang bernegosiasi dengan Rusia untuk membeli BBM setelah AS melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia. Wakil Menteri Energi Rusia Roman Marshavin mengunjungi Sri Lanka pekan ini untuk pembahasan.

Pos terkait