Pada suatu hari di tahun 1930—sekitar setahun setelah Tim Antikorupsi Ness terbentuk dan bekerja—Capone menyuruh anak buahnya menemui Ness di kantornya, Gedung Transportasi Chicago. Hajatnya adalah menawarkan “persahabatan”. Dalam kunjungan itu, anak buah Capone membawa kabar “kebaikan” bosnya, sembari menyodorkan uang USD2.000, tunai, langsung di muka Ness. Tentu dengan rayuan agar Ness luluh dan menghentikan misi bersih-bersihnya.
Si kurir juga menyampaikan ”kabar gembira” dari Capone: di mana setiap pekan Ness akan mendapatkan jumlah yang sama, asalkan bersedia menerima tawaran “persahabatan” Capone. Tetapi, kali itu Capone merayu orang yang salah. Bukannya ngiler, Ness merepons tawaran itu dengan kemarahan yang luar biasa. Dia merasa dihina. Dia usir utusan Capone dengan kemurkaannya.
Hari itu juga dia mengundang pers dan mengumumkan; tak ada satu pun anggota Tim Antikorupsi yang bisa dibeli oleh Capone.Genderang perangnya kian santer ditabuh.
Setelah pernyataan itu, keesokannya Chicago Tribune menyajikan ucapan pedas Ness sebagai sajian utama dengan mengangkat judul Untouchable alias Tak Tersentuh. Artikel itu menceritakan betapa suap tak bisa menyentuh Ness. Julukan itu pula yang mengilhami Brian De Palma menggarap sebuah film berjudul “The Untouchables” –yang dibintangi Kevin Costner dan Robert De Niro. Film yang rilis tahun 1987 ini memang menceritakan kisah nyata perang antara Ness vs Capone.
Mendapati kenyataan pahit penolakan Ness, Capone spontan memperketat pengamanan sekitarnya. Dia merasa terancam. Ke mana-mana dia selalu dikawal minimal 10 centeng. Dengan pengamanan berlapis itu Capone berharap anak buah Ness tak bisa menyentuhnya. Di saat bersamaan, dia juga menyiapkan serangan balik untuk membungkam si Tak Tersentuh.
Tekanan dan teror digencarkan. Sasaran pertama adalah orangtua Ness. Ness sadar bahaya itu. Dia sadar orang-orang Capone sedang mengawasi rumah orang tuanya. Dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk melindungi orang-orang tercintanya itu. Dus, misi Capone mengusik keluarga Ness gagal total.
Sementara itu, tameng yang dipasang Capone sempat membuat anak buah Ness kesulitan membombardir si mafia. Apalagi si gembong dibentengi centeng spesial yang mengenakan seragam aparat penegak hukum.
Ness dan anak buahnya tidak menyerah. Dia terus istikamah menjalankan taktik yang dijalankan sejak awal. Dia terus telusuri aset-aset penghasil duit Al Capone. Setelah usaha yang luar biasa keras, Ness dan timnya berhasil membongkar pabrik miras terbesar milik Capone. Uang USD200.000 berhasil diselamatkan.
Capone kebobolan telak. Si Mafia makin kalap. Dia perintahkan anak buahnya meningkatkan dosis teror untuk Ness. Dia habisi salah satu teman baik Ness dengan cara luar biasa kejam. Mayatnya dipamerkan di depan Ness. Tetapi Ness tidak keder. Komitmennya memberangus Capone tak bisa dihentikan dengan cara apa pun.
Ness menjawab teror Capone dengan metode yang bisa membuat si mafioso merasa terteror juga. Pada suatu siang, pukul 11.00 waktu setempat, dia telepon Capone secara pribadi. Dalam perbincangan itu dia minta Capone melihat ke luar jendela. Ternyata, Ness memarkir semua kendaraan aset-aset si bos mafia yang berhasil disitanya di depan rumah Capone. Ness melancarkan teror balik dengan menunjukkan langsung di muka Capone, bahwa kian hari si penjahat kian melarat lantaran satu per satu asetnya disikat.
Bukannya menyerah, Capone kian ngawur. Dia habisi lagi tiga orang terdekat Ness untuk membalas aset-asetnya yang disita. Teror itu tak cukup membuat Ness pasang gigi mundur. Rasa pedih ditinggal orang-orang terdekat yang mati terbunuh tak menyurutkan langkahnya untuk membungkam si biang penggelapan pajak.
Untuk membalas teror beruntun itu, Ness tak kalah menggila. Gong balasan Ness ditabuh ketika timnya berhasil membongkar sebuah pabrik miras superbesar milik Capone, yang beromzet USD1 juta. Tim Ness juga berhasil membongkar praktik penyelundupan alkohol, bahan utama pabrik miras Capone, dari luar Chicago.
Si mafia makin mati kutu. Dengan bukti-bukti itu, Capone diseret ke depan penyidik.
Sukses melumpuhkan Capone, job Ness dkk. belum lantas selesai. Dia mendapat tugas tambahan untuk menelisik pejabat yang melindungi Capone. Dalam tugas itu, didapatilah sekitar 200-an polisi kunyuk yang mengabdi pada duit haram Capone. Mereka semua diseret ke pengadilan dan dihukum.
Pada 12 Juni 1931, Ness berhasil menunjukkan pada jaksa penuntut umum bahwa Capone dan 68 anggotanya melakukan persekongkolan untuk menggelapkan pajak. Persekongkolan itu, tak tanggung-tanggung, melanggar 5.000 larangan dalam UU Pajak!
Keterangan dari petugas keuangan pajak pada kejaksaan, 5 Juni 1931, yang menyebutkan tak ada pajak masuk dari Capone, memperkuat dakwaan untuk sang bos mafia. Jaksa Agung Johnson langsung memerintahkan agar Capone lekas-lekas diadili.
Sidang dimulai 6 Oktober 1931. Ness memberikan kesaksiannya setiap hari. Setelah persidangan selama dua minggu yang melelahkan, palu hakim pun diketuk; Capone harus mendekam 11 tahun dalam penjara federal.
Lakon Capone, si manipulator kasus biang korupsi, pun selesai.
Si penjahat yang beroperasi dengan sistem terstruktur dan masif itu harus takluk di hadapan konsistensi Eliot Ness dalam menegakkan hukum. Sekaligus menjadi bukti bahwa hukum, jika dipahami dan dikerjakan secara konsisten, tak akan pernah bisa dibeli—baik dengan uang pun kekuasaan.
Tentunya, besar harapan kita agar Jenderal Listyo Sigit atau Ketua KPK Firli Bahurli sekonsisten Eliot Ness. Dan Jokowi benar-benar segarang Hobert Hoover pada masanya. Semua demi Polri yang presisi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.[SF/TP]





