Di Stasiun Tanah Abang, Presiden Prabowo memerintahkan: tidak boleh ada kecelakaan lagi. Seratus tujuh puluh empat hari kemudian, 15 perempuan meninggal dalam gerbong KRL di Bekasi Timur.
Pada 4 November 2025, Presiden Prabowo Subianto berdiri di Stasiun Tanah Abang yang baru diresmikan. Ia menyebut kereta api sebagai fondasi kehidupan masyarakat modern yang sangat strategis dan vital.
Ia menyetujui anggaran Rp5 triliun untuk pengadaan 30 rangkaian KRL baru. Lalu menutup pidato dengan kalimat yang terdengar seperti perintah langsung: “Pintu-pintu lintasan harus segera dibangun. Tidak boleh ada kecelakaan lagi.”
Seratus tujuh puluh empat hari kemudian, 15 perempuan meninggal di atas rel, di dalam gerbong KRL yang dihantam KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.

Malam di Bekasi Timur
Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.50 WIB. Sebuah taksi listrik Green SM mogok dan melintang di atas rel di Jalan Ampera, Bekasi, tepat di perlintasan sebidang JPL 85 dekat Bulak Kapal—yang sudah lama dikenal warga sebagai titik rawan.
KRL yang melintas menabrak taksi itu, lalu berhenti darurat di jalur aktif. KA Argo Bromo Anggrek, yang melaju dari Gambir menuju Surabaya, tidak sempat berhenti. Lokomotifnya menembus masuk ke gerbong belakang KRL. Gerbong itu adalah gerbong khusus perempuan.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengonfirmasi 15 penumpang meninggal dan 88 orang luka-luka. Seluruh korban jiwa adalah perempuan.
Direktur Utama PT KAI menyatakan insiden bermula dari taksi yang tertemper di perlintasan itu. Tapi para pakar menolak kesimpulan sesederhana itu.

Bukan Soal Taksinya
Dalam sistem perkeretaapian modern, satu gangguan di perlintasan tidak seharusnya berujung tabrakan antarrangkaian. Selalu ada lapisan pengaman: sinyal otomatis, pusat kendali operasi, koordinasi antarpetugas.





