Deformasi di Sunda Kecil juga tercatat memicu gempa Alor bermagnitudo 7,5 pada 2004. Namun, salah satu bencana terdahsyat adalah gempa Flores bermagnitudo 7,8 pada 1992 yang memicu tsunami setinggi 3,2 meter di Kampung Wuring.
Fakta tersebut direkam secara rinci dalam jurnal publikasi bertajuk Damage to Coastal Villages Due to the 1992 Flores Island Earthquake Tsunami (1995).
Peneliti geologi Belanda, Van Bemmelen, pada 1949 telah mengklasifikasikan Nusa Tenggara sebagai sabuk tektonik aktif. Kawasan ini rentan bahaya kegempaan karena tingginya intensitas aktivitas subduksi, vulkanisme, dan deformasi kerak bumi.
”Kondisi tersebut menunjukkan Nusa Tenggara Timur berada di kawasan dengan aktivitas tektonik yang kompleks. Wilayah ini tidak hanya dipengaruhi satu sesar, tetapi juga melibatkan subduksi dan back-arc thrust,” tulis laporan BMKG dalam analisisnya.***





