“Saya menguatkan pasukan darurat dan penyelamat yang bekerja di lapangan saat ini, dan saya memanggil semua orang untuk mengikuti instruksi Komando Dalam Negeri,” ujar Netanyahu dalam unggahan di X.
“Kami bertekad untuk terus menyerang musuh kami di semua lini,” tambahnya.
Kementerian Luar Negeri Israel mengecam serangan tersebut sebagai kejahatan perang dan terorisme. Mereka menyebut lebih dari 100 korban termasuk anak-anak menjadi sasaran serangan terhadap warga sipil.
Respons Iran dan Eskalasi Konflik
Serangan ini terjadi di tengah konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer dan warga sipil.
Pakar urusan internasional Iran Morteza Simiari menjelaskan strategi Teheran dalam wawancara dengan IRIB TV.
“Serangan ini dilakukan kurang dari 24 jam setelah Israel dengan ‘gila’ menyerang fasilitas Natanz,” ujarnya.
Ia menegaskan strategi “mata ganti mata” berarti Iran akan membalas setiap serangan dengan intensitas lebih besar.
Serangan Balasan ke Teheran
Tak lama setelah serangan ke Israel selatan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan serangan balasan ke Teheran. Angkatan Udara Israel menargetkan sejumlah infrastruktur Iran dalam operasi tersebut.
IDF juga membuka penyelidikan atas kegagalan sistem Iron Dome dalam mencegat rudal Iran.
Ketegangan terus meningkat. Konflik kini telah memasuki pekan ketiga.
Komunitas internasional melalui IAEA kembali menyerukan pengendalian diri untuk mencegah meluasnya konflik regional.***





