Kenangan seorang wartawan tentang Eric Ireng, fotografer Surabaya yang mengajar lewat momen.
Oleh: Edi Purwanto | Penulis Samudradakta.com
Suatu pagi, medio 2004. Rumput Lapangan Gelora Sepuluh Nopember masih basah oleh embun. Puluhan wartawan yang bertugas di Polda Jatim sudah bersiap-siap di pinggir lapangan. Mereka akan bertanding melawan Kapolda Jatim Irjen Pol Firman Gani.
Para wartawan yang akan meliput sudah berdiri menyebar di tepi lapangan, menunggu momen. Di salah satu sudut kanan gawang, seorang lelaki bertubuh gempal duduk tenang. Wajahnya sangar. Kulitnya legam. Di tangannya, kamera Nikon dengan lensa tele panjang menjulur seperti meriam kecil yang siap menembak cahaya.
Namanya Eric Siswanto. Tapi kami mengenalnya sebagai Eric Ireng.
Julukan itu melekat bukan karena ia keras, barangkali karena kulitnya yang gelap dan keakraban khas anak lapangan. Di balik raut wajah yang membuat orang segan, ada senyum tipis yang jarang gagal mencairkan suasana. Ia fotografer senior Harian Surya.
Aku? Hanya wartawan junior dengan kamera cekrek dan roll film yang harus diputar manual.
Hari itu kami meliput pertandingan sepak bola yang diikuti Kapolda Jatim saat itu, almarhum Irjen Pol Firman Gani. Aku berdiri agak jauh, mencoba mencari sudut. Minder? Tentu saja. Kamera seadanya, pengalaman minim, dan di sebelahku duduk seorang jebolan STIKosa AWS yang reputasinya sudah panjang di lapangan.
Tiba-tiba ia melirik. “Kene cedak ambek aku.” Aku mendekat. Duduk di sampingnya. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat bagaimana ia bekerja. Tidak tergesa. Tidak panik. Matanya membaca arah bola, tubuh pemain, bayangan cahaya. Jemarinya ringan, tapi pasti. “Carane ngene, lo. Ben entuk gambar sing apik.”
Kalimat sederhana. Tapi di situlah kelas dimulai. Tanpa podium, tanpa papan tulis. Hanya rumput lapangan dan suara sorak-sorai.
Aku mengikuti arah lensanya. Menunggu. Saat Irjen Pol Firman Gani bersiap menendang bola ke arah gawang, aku menahan napas. Lalu: cekrek.
Satu momen. Satu bunyi. Satu keberanian.





