“NU ini rumah besar umat. Jangan sampai terseret pada urusan yang membawa kegaduhan dan menjauhkan kita dari khittah pendirian. Kalau sebuah urusan membawa lebih banyak mudarat, maka tinggalkan,” tegasnya.
Ia menyebut lima risiko yang dapat menurunkan marwah NU: konflik internal, polarisasi kader, persepsi negatif publik, keterlibatan bisnis berisiko, serta terabaikannya agenda utama seperti pendidikan, dakwah, kesehatan, dan pemberdayaan umat.
Kiai Said menegaskan bahwa kemajuan warga NU tidak ditentukan oleh kepemilikan konsesi tambang, melainkan oleh penguatan SDM lewat pesantren, ekonomi kerakyatan, beasiswa, layanan kesehatan, dan digitalisasi pelayanan umat.
“Keberkahan NU itu dari ketulusan, dari amanah, dari keilmuan. Bukan dari proyek tambang. Kita bisa maju tanpa itu semua, asal tata kelola dan pelayanan ke umat diperkuat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (7/12/2025).
Ia menutup dengan pesan bahwa seluruh sarannya lahir dari kepedulian terhadap masa depan PBNU, agar organisasi kembali teduh dan menjaga marwah satu abad lebih yang telah diwariskan para pendiri.***





