Respons Cepat Iran: Langsung Kirim 100 Drone ke Israel, Konsisten ‘Head to Head’ dengan Zionis

Ayatollah Khamenei (kiri) dan Ruhullah Khomeini (kanan), dua generasi pemimpin spiritual tertinggi Iran yang konsisten melawan Zionisme Israel. | Istimewa
Iran melawan Israel bukan karena urusan politik-pragmatis. Tapi karena keteguhan ideologis. Prinsip yang membuat negara ini berani ‘head to head’ langsung dengan Israel, ketika negara lain—termasuk negara-negara adidaya—gamang untuk mengambil sikap serupa. 

__________

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tak cuma menggertak ketika melontarkan ancaman bakal memberikan “hukuman berat” terhadap Israel, setelah negara Zionis menggempur sejumlah fasilitas militer dan nuklir Iran dalam serangan udara besar-besaran pada Jumat dini hari. 

“Rezim Zionis telah melakukan kejahatan keji di Iran. Mereka harus siap menerima hukuman berat. Dengan izin Tuhan, tangan kuat IRGC tidak akan membiarkan mereka lolos,” tegas Khamenei, dikutip Mehr News, Jumat.

Bacaan Lainnya

Selepas pernyataan keras itu, Iran meluncurkan lebih dari 100 drone ke arah Israel sebagai balasan awal. Namun, sebagian besar drone dilaporkan berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Israel.

Perlawanan Ideologis Sejak 1979

Pemimpin spiritual Iran itu memang terkenal keras terhadap Israel.

Sikap keras Ayatollah Khamenei terhadap Zionis ini melanjutkan warisan pendiri Revolusi Islam 1979, Imam Ruhullah Khomeini, yang selalu menyerukan perlawanan total terhadap Zionisme.

Salah satu dasar alasan perlawanan Ruhullah Khomeini sebenarnya sederhana: adalah sebuah aib ketika kelompok kecil Zionis bisa berkuasa atas lebih dari satu miliar umat Islam.

“Mengapa negara-negara yang memiliki segala sesuatu dan mempunyai pelbagai kekuatan dan potensi justru dikuasai oleh Israel yang merupakan kelompok kecil?” 

… tanya Ruhullah Khomeini, sebagaimana tercatat dalam Shahifah Imam, Muassaseh Tanzhim wa Nasyr Atsar Imam Khomeini. 

“Ini terjadi karena umat tercerai-berai dan pelbagai negara Islam tidak terkonsolidasi dengan baik. Satu miliar masyarakat Islam yang memiliki pelbagai peralatan dan aset hanya duduk dan berpangku tangan menonton kebiadaban Israel terhadap rakyat Lebanon dan Palestina.”  

Dan menurut Imam Ruhullah Khomeini, bila seluruh kaum Muslim bersatu, dan masing-masing mereka membawa seember air yang ditumpahkan di Israel, maka negara Zionis akan tenggelam dan kebanjiran.  

25 Tahun Lagi Israel Tamat

Seruan perlawanan Ruhullah Khamenei diteruskan oleh Ayatollah Ali Khamenei. Pemimpin spiritual Iran di masa kini tersebut bahkan pernah menyebut keberadaan Israel tidak akan lama. 

“Saya ingin mengatakan (kepada Israel) bahwa mereka tidak akan melihat (akhir) dari 25 tahun mendatang.”

… ucap Ayatollah Khamenei, di Imam Khomeini Mosque di Teheran, seperti dikutip kantor berita IRNA, Jumat, 11 September 2015. 

Pernyataan ini disampaikan Khamenei saat membahas kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara yang disebut P5+1—yang terdiri atas Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Jerman, China dan Rusia. 

Dalam momen itu, Iran sepakat mengurangi suplai uranium dan membatasi aktivitas pengayaan uranium. Sementara negara-negara Barat sepakat mencabut sanksi terhadap Iran.

Beberapa langkah menindaklanjuti kesepakatan ini akan berlangsung sedikitnya dalam 25 tahun ke depan sejak perjanjian terjalin. Bila merujuk pada jangka waktu itu, Khamenei menekankan bahwa seharusnya ketakutan Israel akan nuklir Iran terhapus seiring berjalannya waktu.

“Insya Allah, tidak akan ada yang namanya rezim Zionis dalam 25 tahun lagi. Sampai saat itu, perjuangan, heroik, dan moral jihad tidak akan meninggalkan kenikmatan bagi Zionis,”

… tegas Khamenei, seperti dikutip IRNA.

Senjata Baru, Kesiapan Iran

Saat ini Iran memiliki arsenal rudal modern, termasuk rudal balistik Qassem Bassir dengan jangkauan 1.200 km yang diuji Mei lalu. Pengamat militer meyakini Iran siap memperbesar skala balasannya jika serangan Israel berlanjut.

Peringatan Khamenei bukan sekadar retorika. Dengan Iran yang kini makin siap tempur, kawasan Timur Tengah memasuki periode ketegangan baru yang bisa memicu konflik skala lebih besar.***

Pos terkait