Profil Zulfa Mustofa, Ulama Penyair yang Kini Menjadi Pj Ketum PBNU

KH. Zulfa Mustofa bersama KH. Makruf Amin, Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia (2019-2024) - Instagram @ khzulfamustofaofficial
KH Zulfa Mustofa ditunjuk sebagai Pj Ketum PBNU hingga Muktamar 2026.

KH Zulfa Mustofa resmi ditetapkan sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui rapat pleno Syuriyah PBNU pada 9 Desember 2025 di Hotel Sultan, Jakarta. Ia menggantikan posisi Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) untuk memimpin Tanfidziyah hingga Muktamar 2026.

Ulama Intelektual Berdarah Banten–Jawa

Zulfa Mustofa dikenal sebagai ulama intelektual yang rasikh fil ’ilmi. Sebelum ditunjuk sebagai Pj Ketum PBNU, ia menjabat Wakil Ketua Umum PBNU periode 2022–2027.

Kiai kelahiran Jakarta, 7 Agustus 1977 ini merupakan putra KH Muqarrabin dan Marhumah Latifah. Dari garis ibunya, ia adalah keponakan Wapres ke-13 RI KH Ma’ruf Amin dan masih memiliki darah ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani.

Bacaan Lainnya

Zulfa dibesarkan dalam kultur Jawa dan Banten. Ayahnya berasal dari Pekalongan, sementara ibunya dari Kresek, Banten. Ia menonjol dalam penguasaan turats dan Bahasa Arab. Kemampuannya menggubah syair Arab secara spontan (irtijali) membuatnya dijuluki “Sang Penyair NU”.

Riwayat Pendidikan dan Kiprah Keilmuan

Zulfa menempuh pendidikan dasar di SD Al-Jihad Tanjung Priok sebelum pindah ke Pekalongan. Pendidikan tsanawiyah ia jalani di Simbangkulon, lalu melanjutkan ke pesantren di Kajen, Pati.

Rencananya ke Al-Azhar Mesir atau Makkah batal setelah ayahnya wafat. Pada usia 19 tahun, ia mengambil alih lima majelis taklim dan pada 2000 mendirikan majelis taklim Darul Musthofa.

Pada 25 September 2024, UINSA Surabaya menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa atas karyanya menghidupkan syair Arab sebagai instrumen pendidikan karakter.

Aktif Menulis dan Diapresiasi Ulama Timur Tengah

Karya fenomenalnya, Tuhfatul Qashi wa ad-Dani, biografi Syekh Nawawi al-Bantani dalam bentuk nazam Arab, mendapat apresiasi luas. Terjemahan Indonesianya diterbitkan Pustaka IIMaN pada 2023. Ia juga menulis Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqih Jahluhu dan Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i.

Karier Organisasi yang Panjang

Zulfa berpengalaman panjang di struktur NU: dari GP Ansor Tanjung Priok (1997), Ketua PCNU Jakarta Utara, Ketua PWNU DKI Jakarta, Ketua LBM PBNU, Katib Syuriyah PBNU, hingga Wakil Ketua Umum PBNU.

Di luar NU, ia pernah menjabat Sekjen MUI DKI Jakarta (2013–2018), Wakil Majelis Pertimbangan MUI Pusat, dan Ketua Komite Fatwa BPJPH Kemenag.

Perannya memadukan keilmuan klasik dan perspektif kontemporer membuatnya disegani di kalangan ulama, akademisi, dan pejabat negara.

Pos terkait