PKB Berduka, Gus Alamuddin Dimyati Rois Tutup Usia

KH. Alamuddin Dimyati Rois semasa hidup. Foto:Tangkapan Layar @youtube Gus Alam Channel
Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Salah satu kader terbaiknya, KH. Alamuddin Dimyati Rois, meninggal dunia pada Selasa pagi, 6 Mei 2025. Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB itu mengembuskan napas terakhir setelah dirawat selama empat hari di RS Budi Rahayu, Pekalongan, pasca kecelakaan lalu lintas di jalan tol Pemalang-Batang.

__________

Gus Alam—sapaan akrabnya—adalah putra ulama kharismatik asal Kendal, almaghfurlah KH. Dimyati Rois. Ia juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadlu wal Fadilah di Kaliwungu serta salah satu sosok santri-politisi yang menginspirasi banyak generasi muda.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Keluarga besar PKB sangat kehilangan atas wafatnya Gus Alamuddin Dimyati Rois,” ujar Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar.

Bacaan Lainnya

Gus Imin mengenang sosok almarhum sebagai pribadi bersahaja, penuh dedikasi, dan teguh mengabdi kepada umat serta bangsa. Pertemuan terakhirnya dengan Gus Alam terjadi dalam acara pernikahan putri Wakil Ketua Umum PKB, Cucun Syamsurijal. “Saya menjadi saksi Gus Alam adalah pejuang pendidikan pesantren, pejuang politik, dan pejuang agama,” ucapnya.

Ketua Fraksi PKB DPR RI, Jazilul Fawaid, menyebut kepergian Gus Alam sebagai kehilangan besar. “Beliau mencurahkan hidupnya untuk partai, pondok pesantren, dan umat,” ujar pria yang akrab disapa Gus Jazil itu.

Meski masih muda, Gus Alam dinilai berhasil memberi warna dalam perjalanan Fraksi PKB. “Ia membuktikan bahwa santri bisa berkiprah di panggung politik nasional. Kami berharap akan lahir lebih banyak tunas santri yang mengikuti jejak beliau,” lanjutnya.

Gus Jazil juga menyampaikan permohonan maaf kepada semua kolega dan masyarakat jika selama hidup Gus Alam pernah melakukan kesalahan. “Kami mohon dimaafkan jika ada khilaf, semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” imbuhnya.

Gus Alam wafat setelah mengalami kecelakaan di ruas Tol Pemalang–Batang, KM 315 wilayah Desa Karangasem, Petarukan, Pemalang pada Jumat dini hari (2/5). Saat itu, ia baru saja menghadiri pengajian rutin malam Jumat Wage di Desa Tegalglagah, Brebes. Mobil Toyota Innova H-1980-CM yang ditumpanginya menabrak truk fuso. Dua penumpang tewas di tempat, Gus Alam sempat dirawat namun tak tertolong.

Almarhum lahir di Kaliwungu, Kendal, 26 Desember 1980. Sejak muda, ia aktif dalam politik melalui PKB. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Garda Bangsa dan terpilih empat kali sebagai anggota DPR dari Dapil I Jateng (Kendal, Semarang, Salatiga, Kota Semarang).

Keterlibatannya di politik tak lepas dari wejangan sang ayah. Dalam sebuah acara bersama Wapres KH. Ma’ruf Amin pada Desember 2024, Gus Alam menyampaikan bahwa menjadi kiai tidak cukup hanya paham agama, tetapi juga harus memahami politik. “Politik harus dibimbing nilai kebenaran. Akhlakul karimah adalah landasan kami—tidak menipu, tidak mengadu domba, dan tidak mudah diadu domba,” katanya.

Ia juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan kerukunan umat beragama. “Indonesia adalah negara paling mampu menjaga harmoni antar umat beragama. Kita harus terus menjaganya,” ujarnya dalam berbagai forum.

Keseharian Gus Alam jauh dari kemewahan. Ia dikenal sederhana, lebih sering mengenakan sarung, baju koko, dan peci hitam dalam setiap aktivitasnya. “Berjuang tanpa lelah, hadir untuk rakyat,” begitu semboyan hidupnya.

Jenazah almarhum dimakamkan pada Selasa sore (6/5) di kompleks Pondok Pesantren Al Fadlu 2, Desa Sidorejo, Brangsong, Kendal. Doa dan penghormatan terakhir terus mengalir, tak hanya dari kalangan PKB, tapi juga dari berbagai lapisan masyarakat. Selamat jalan, Gus Alam. Al-Fatihah.***

Pos terkait