Miftah Maulana Habiburrahman sudah resmi mengajukan mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden. Namun, Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid, meminta agar Presiden Prabowo tak menerima pengunduran diri Miftah. Padahal sebelumnya dia menyebut penceramah bernama asli Ta’im itu sebagai kiai urakan.
Pada Jumat, 6 Desember 2024, Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid, mengeluarkan pernyataan yang meminta agar Presiden Prabowo tidak menerima pengunduran diri Miftah. Sebab, kata Jazilul, Miftah dinilainya bisa memberikan kontribusi dan dukungan yang besar kepada Presiden Prabowo untuk membangun keumatan.
”Sejatinya Gus Miftah ini juga pendukung orang kecil,” kata Jazilul. “Saya sangat yakin Gus Miftah dapat memberikan kontribusi yang lebih besar untuk keumatan,” imbuhnya.
Jazilul juga berharap Miftah mengurungkan niatnya mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden.
Menurut dia, peristiwa cemoohan terhadap penjual es teh bernama Sunhaji itu telah selesai setelah keduanya sudah saling memaafkan. Apalagi, Jazilul menambahkan, Miftah juga berencana menggelar pengajian akbar di kediaman Sunhaji pada 19 Desember mendatang.
“Sebagai manusia, kita semua, siapa pun, termasuk kiai, tidak luput dari salah. Kalau Gus Miftah dalam ceramahnya ada yang salah ucap, itu manusia,” kata dia.
Sementara itu, dua hari sebelumnya, Rabu, 4 Desember 2024—ketika video Miftah sedang ‘hot-hot’-nya di jagat maya—Jazilul mengeluarkan pernyataan jika ucapan kasar Miftah kepada pedagang es teh ketika mengisi ceramah di Magelang, Jawa Tengah, kontradiktif dengan karakter Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya sosok Presiden Prabowo Subianto selalu mengedepankan dan menghargai orang miskin dan tidak ingin ada orang lemah yang tertindas. Presiden, kata Jazilul, juga ingin menghapuskan kemiskinan di tanah air.
“Sementara ada orang dekatnya yang berbeda arah, tentu itu kontradiktif dan pasti akan jadi sorotan,” kata Jazilul di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 4 Desember 2024.
Menurut dia, peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran bagi Miftah maupun masyarakat luas. Kendati saat itu menyandang status sebagai pejabat negara, menurut dia, Miftah juga masih dikenal sebagai tokoh agama. Maka dari itu dia menilai Miftah melontarkan candaan yang tak sesuai dengan tempatnya.
Jazilul pun mahfum ada pihak-pihak yang mendesak agar Miftah dicopot dari jabatannya. Kata dia, desakan itu adalah pendapat yang berasal dari perasaan geram. “Ya setiap orang boleh kan menyampaikan pendapatnya, apalagi orang sedang geram. Ya kita enggak bisa melarang,” katanya.
Ketika itu Jazilul juga mendesak Miftah meminta maaf langsung kepada penjual es teh dan tidak menyuruh kuasa hukum. Menurut dia, meminta maaf melalui kuasa hukum tidak pantas dilakukan karena Miftah harus bertanggungjawab atas ucapannya.
Jazilul menilai persoalan ini juga bukan menyangkut kasus hukum melainkan terkait kemanusiaan.
Akhirnya Miftah benar-benar meminta maaf dengan mendatangai Sunhaji secara langsung pada Rabu, 4 Desember 2024. Dua hari setelahnya, Miftah menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan UKP pada hari Jumat, 6 Desember 2024.***





