Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kebanggaan atas pengakuan dunia internasional terhadap ketahanan pangan Indonesia, khususnya produksi beras. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Senin, 5 Mei 2025, Presiden menceritakan apresiasi yang disampaikan Presiden Senat Kerajaan Kamboja, Samdech Hun Sen, atas keberhasilan Indonesia yang tidak lagi mengimpor beras.
__________
“Selamat sukses produksi Saudara, luar biasa,” ujar Prabowo dikutip dari keterangan tertulis Istana Merdeka, Selasa, 6 Mei 2025. Prabowo lantas menirukan ucapan Hun Sen dalam pertemuan di Istana Merdeka. Menurut Hun Sen, Kamboja yang sebelumnya mengekspor beras ke Indonesia, kini harus mencari pasar baru.
Produksi beras Indonesia memang menunjukkan hasil menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras sepanjang Januari–Juni 2025 mencapai 18,76 juta ton. Angka ini meningkat 1,89 juta ton atau 11,17 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun, euforia itu tak serta-merta disambut seruan ekspor dari kalangan pengamat. Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, meminta pemerintah tidak gegabah.
“Kita syukuri produksi naik. Tapi nggak usah terlalu euforia dengan klaim produksi naik tinggi sehingga ada potensi ekspor,” tegas Khudori dikutip dari Bisnis.
Khudori menekankan bahwa periode paceklik di kuartal terakhir setiap tahun harus diantisipasi. Jika surplus hanya 3,22 juta ton setelah dikurangi kebutuhan konsumsi nasional, maka sisa beras itu sebaiknya dijadikan cadangan menghadapi potensi defisit.
“Jangan lantas euforia, saat ini surplus [beras] ada peluang ekspor. Apa yang mau diekspor? Saat ini situasinya masih amat risk-an kalau Indonesia gegabah mengekspor,” katanya.
Menurut Khudori, stok Bulog per 28 April 2025 memang mencatat rekor tertinggi, yakni 3,3 juta ton. Namun sebagian besar merupakan sisa stok 2024 yang berasal dari impor. Dan bila stok terlalu lama disimpan tanpa penyaluran yang jelas, kualitasnya akan turun, bahkan menimbulkan beban biaya pemeliharaan gudang.
Selain itu, dia mengingatkan bahwa harga beras Indonesia juga belum kompetitif di pasar global. “Sudah puluhan tahun harga beras kita tidak pernah lebih murah dari harga dunia. Saat ini harga beras kita sekitar 1,7 sampai 1,8 kali lebih mahal dari pasar internasional,” tandasnya.





