Beras pisang adalah produk olahan buah pisang segar yang sudah tua tetapi belum matang. Diolah dengan sistem pemanasan, penghancuran, dan pengeringan.
Beras pisang, menurut Nanik, bisa menjadi alternatif makanan pokok pengganti nasi dari beras padi. Beras pisang juga bisa disimpan lebih lama daripada pisang dalam bentuk buah segar.

Cara membuat beras pisang pun, menurut Nanik, cukup mudah. Siapa pun bisa membikinnya. Bisa diproduksi massal juga.
Caranya, pilih pisang barlin atau pisang kepok yang sudah tua, lalu bersihkan. Setelah itu, masukkan dalam pemanas—autoklaf atau pengukus—dengan suhu 70 – 80 derajat celsius selama kurang lebih 20 menit. Lalu, angkat dan dinginkan.
Berikutnya, kupas kulit pisang, kemudian perkecil partikel pisang—dengan diparut misalnya—lalu keringkan dengan panas matahari suhu 70-80 derajat celcius. Jika mau dimasak, tinggal kukus seperti menanak nasi dengan suhu 80 derajat celcius selama 20 menit. Rasanya tak kalah enak sama nasi dari beras padi.
“Yang kami tau beras pisang ini merupakan temuan pertama kali. Masih kami pertimbangkan untuk pengurusan patennya,” kata Naniek.
Tak hanya diolah menjadi beras, pisang juga diolah menjadi tepung. Menurut Ari Widodo, seorang pengusaha tepung pisang dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tepung pisang bisa menggantikan tepung terigu karena mengandung gulten free dan juga mengenyangkan. Sayangnya, produk ini belum populer di Indonesia, sehingga tidak banyak dikenal oleh konsumen dalam negeri.
“Tantangan usaha pengembangan tepung pisang ini karena konsumsi dalam negeri belum populer. Untuk mengembangkan tepung pisang, pemerintah perlu lebih mensosialisasikan mengenai tepung pisang melalui media massa dan berbagai penyuluhan ke masyarakat,” kata Ari, dikutip Jumat (1/3/2024).
Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, juga menyatakan jika pisang dapat dikonsumsi sebagai makanan utama. Pasalnya, “Buah pisang merupakan sumber karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral,” kata Ambar, ketika menyampaikan hasil temuannya di Gedung FST UWM, Kampus I UWM, Dalem Mangkubumen, Yogyakarta, pada 26 Juli 2023 lalu.
Menurut Prof. Ambar, buah pisang yang sudah matang atau masak fisiologis, selain enak dan lezat rasanya, juga mengandung gizi yang lengkap dan cukup tinggi. Antara lain mengandung kadar air 70 persen; karbohidrat 22,84 persen; gula 12,23 persen; dan vitamin-A 30 ppm.
“Kandungan gizi dalam buah pisang menyebabkannya mempunyai khasiat untuk memelihara kesehatan dan dapat diolah menjadi aneka makanan. Tanaman pisang mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi, karena semua bagian tanamannya dapat dimanfaatkan untuk menunjang kesehatan, mulai dari bonggol, batang, daun, bunga, dan buahnya,” tegas Ambar.
Ambar juga mengungkapkan bahwa pisang mengandung ion kalium (K) tinggi, yang berfungsi menurunkan tekanan darah dan menjaga keseimbangan ion natrium dan kalium—yang berfungsi menormalkan metabolisme dalam tubuh.





