Ancaman kelangkaan bahan pangan kian nyata. Beras, gandum, atau kentang yang selama ini banyak digunakan masyarakat dunia sebagai bahan makanan pokok, mulai mengalami kesulitan produksi dan distribusi. Para ahli pun mulai mencari bahan pangan pokok alternatif. Mereka merekomendasikan pisang, singkong, dan kacang buncis.
-
- Artikel ini pertama kali diunggah pada 26 Februari 2024. Diunggah ulang untuk pengayaan wacana rencana investasi Bill Gates untuk budidaya pisang di Indonesia.
Menurut hasil kesimpulan penelitian yang dipublikasikan pada bulan Juli 2023 lalu, pisang diramalkan bisa menjadi sumber makanan pokok dunia ketika dunia dilanda krisis pangan akibat perubahan iklim.
Para periset dari lembaga kemitraan pertanian bernama Consultative Group on International Agricultural Research atau CGIAR menyebut, pisang berpotensi menggantikan peran kentang di sejumlah negara berkembang.
Singkong dan kacang buncis—yang selama ini kurang populer—juga disebut bakal memainkan peran makin penting dalam dunia pangan, seiring makin tingginya suhu planet. Para pakar juga menyebut bahwa manusia akan dipaksa menyesuaikan diri dengan variasi menu dan jenis pangan baru karena bahan makanan tradisional makin sulit didapat.
Studi ini dilakukan oleh para ahli atas permintaan Komite PBB untuk Keamanan Pangan. Para ahli diminta meneliti pengaruh perubahan iklim terhadap pasokan pangan dan pertanian terhadap 22 komoditas hasil pertanian paling penting bagi dunia.
Direktur Program pada Kelompok Riset untuk Perubahan Iklim, Pertanian dan keamanan Pangan (CCAFS) PBB Bruce Campbell—yang mengoordinir sejumlah institusi penting di seluruh dunia dalam penelitian tersebut—mengatakan bahwa perubahan opsi bahan pangan adalah sebuah keniscayaan sejarah. Artinya, apa yang diprediksi bakal terjadi di masa depan terkait perubahan pilihan bahan pangan tersebut sudah berlangsung di masa lalu.
“Dua dekade lalu, hampir tak ada konsumsi beras di sejumlah wilayah Afrika, sekarang ada. Orang harus berubah karena tekanan harga, pasokan yang lebih mudah didapat, atau karena lebih mudah dimasak. Saya kira perubahan semacam itu memang benar terjadi dan saya kira akan terjadi di masa depan,” katanya.
Sementara itu, pakar hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof.Sobir mengemukakan, upaya mendorong diversifikasi pangan pokok kian terasa penting seiring terus meningkatnya jumlah penduduk yang diikuti peningkatan kebutuhan bahan pangan pokok. Sobir mengatakannya di acara webinar “Eksplorasi Pangan Lokal: Pisang, #KenyangNggaHarusNasi” yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama Badan Ketahanan Pangan pada Rabu, 28 Juli 2023,
Terkait pisang yang diprediksi bakal menjadi makanan pokok masa depan, Prof. Sobir menyatakan, sebagaimana beras, pisang kini juga mudah didapatkan di pasaran. Mengutip data pemerintah, Sobir menyebut bahwa di tahun 2020 produksi pisang di Indonesia mencapai 7,8 juta ton.
Kegiatan budidaya tanaman pisang kian marak ketika didukung oleh ketersediaan bibitnya, yang telah mencapai lebih dari 200 varietas dengan keunggulan masing-masing.

Pisang pun tak hanya terdistribusi ke masyarakat dalam bentuk buah segar, tetapi juga banyak diperdagangkan dalam bentuk beraneka macam olahan. “Bahkan, dari dulu hingga kini, bayi juga masih diberi makanan berupa pisang. Jadi, sebetulnya sejak kecil orang Indonesia bisa menerima pisang sebagai makanan pokok,” ujarnya.
Menurut Sobir, yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa mendorong peningkatan konsumsi pisang untuk menjadi pengganti nasi (demand driven). Perlu dicari strategi yang tepat agar konsumsi pisang bisa terus meningkat di masyarakat. Maka dari itu, menurut dia, tak ada salahnya mengadopsi cara-cara di negara lain, seperti di Jepang digaungkan trend diet. Menurut Sobir, “banana breakfast” atau sarapan pisang mampu meningkatkan konsumsi pisang di kalangan milenial negara tersebut.
Untuk di Indonesia, menurut Prof. Sobir, bisa digiatkan antara lain kampanye makan pisang dengan mengangkat tagline “One Day with Banana“. Atau juga bisa digaungkan pisang sebagai pangan yang tepat dikonsumsi menjelang tidur malam.
“Belakangan ramai di medsos dampak buruk makan malam yang dilakukan mendekati saat tidur. Sebagai penahan lapar, solusinya ya makanlah pisang sebelum tidur,” paparnya.
“Seiring terus bertambahnya jumlah penduduk,” lanjut Sobir, “kita harus segera memperkenalkan pangan pokok non-beras. Tidak mungkin kita hanya tergantung dengan satu komoditas pangan pokok beras. Kita harus melakukan diversifikasi sedini mungkin, salah satunya melalui pengembangan pisang.”





