Kemudahan akses pinjaman online (pinjol) di era digital kini menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi menawarkan solusi cepat, di sisi lain menyimpan risiko serius bagi kesehatan mental masyarakat, terutama jika terjerat pinjol ilegal.
Psikiater dr Ayesha Devina SpKJ dari RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan mengingatkan, pinjol ilegal dapat berdampak langsung pada kondisi psikologis hingga fungsi otak seseorang. “Prosesnya cepat dan tanpa tatap muka, tapi risiko yang muncul bisa sangat besar, mulai dari stres hingga gangguan mental serius,” ujarnya.
Tekanan Finansial Picu Gangguan Otak
Pinjaman online merupakan layanan berbasis aplikasi atau situs web yang memudahkan masyarakat memperoleh dana. Namun, masyarakat diminta berhati-hati, khususnya terhadap pinjol ilegal yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pinjol ilegal kerap memicu masalah serius, seperti penyalahgunaan data pribadi dan praktik penagihan yang tidak manusiawi. Kontak peminjam bisa disebar, disertai ancaman dan intimidasi yang memicu rasa takut.
Selain itu, bunga tinggi membuat utang membengkak dalam waktu singkat. Kondisi ini menciptakan tekanan finansial yang berdampak langsung pada kerja otak.
Dalam kondisi stres, otak terus memikirkan beban utang. Akibatnya, muncul gangguan konsentrasi, sulit tidur, hingga kecenderungan mengambil keputusan impulsif. “Sering terjadi pola gali lubang tutup lubang, yang justru memperparah kondisi keuangan dan mental,” jelas dr Ayesha Devina SpKJ seperti dilansir laman Keslan Kemenkes dilihat Ahad, (19/5/2025).
Risiko Depresi hingga Pikiran Bunuh Diri
Dampak pinjol menjadi lebih serius pada individu dengan kondisi mental yang rentan. Stres berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi.
Gejalanya meliputi perasaan putus asa, kehilangan semangat, rendah diri, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam kasus tertentu, bahkan dapat muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.
Karena itu, penanganan sejak dini menjadi sangat penting.
Edukasi dan Pencegahan Jadi Kunci
Untuk mencegah jeratan pinjol, masyarakat diimbau lebih bijak dalam mengelola keuangan. Salah satunya dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Menyusun anggaran bulanan juga penting agar pengeluaran lebih terkontrol. Selain itu, pastikan legalitas pinjol melalui OJK dan hindari tautan tidak resmi.
Memberi jeda sebelum memutuskan meminjam juga disarankan agar keputusan tetap rasional. Memiliki dana darurat menjadi langkah perlindungan terbaik untuk kebutuhan mendesak.
Sudah Terlanjur Terjerat, Ini Solusinya
Bagi yang sudah terjerat pinjol, langkah pemulihan tetap terbuka. Prioritas utama adalah menyusun rencana pelunasan utang secara bertahap.
Pinjol ilegal tidak wajib dilunasi. Jika disertai ancaman atau teror, masyarakat disarankan segera melaporkan.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga berperan penting dalam proses pemulihan. Jika mengalami stres berat atau depresi, segera cari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
“Jangan ragu mencari pertolongan. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” tegasnya.***





