Ketika sedang menyamar, biasanya Bung Karno mengenakan baju biasa dan bertopi—bukan berpeci. Dia benar-benar menyamar agar tidak dikenal oleh rakyatnya. Bung Karno juga selalu berusaha untuk tidak bersuara agar tidak ketahuan. Kalau sampai ketahuan, misinya penyamarannya bisa gagal total.
Pernah ketika Bung Karno blusukan ke Pasar Senen, Jakarta Pusat, untuk memantau pekerja yang tengah membangun gudang, ia spontan bertanya kepada para kuli bangunan dari mana material bangunan didatangkan. Belum lagi pertanyaan itu mendapat jawaban, seorang perempuan di kerumunan pasar spontan berteriak, “Bapak! Itu suara Bapak! Itu Bapak!” Sukarno langsung dikenali dari suaranya. Dalam sekejap manusia sudah mengerubungi Bung Karno, sekadar bersalaman atau sekadar menyentuhnya.
_____
Peci hitam yang selalu dipakai Bung Karno juga memiliki filosofi. Alasan Bung Karno memilihnya sebagai outfit karena peci merupakan simbol rakyat kecil masa itu. Peci adalah tutup kepala yang sering dipakai oleh rakyat pribumi, bukan oleh raja, petinggi, atau bangsawan. Soal peci ini juga dibahas dalam Episode 8 Bung Karno Series yang disusun oleh Badan Kebudayaan Nasional Pusat PDI Perjuangan bersama Dr. Abdul Gaffar Karim, Dosen Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Bung Karno juga punya misi khusus ketika memilih peci sebagai ciri khas penampilannya. Dia ingin agar penutup kepala yang biasa dipakai buruh Melayu itu “terangkat derajatnya”, dari awalnya hanya dipakai masyarakat kelas bawah menjadi simbol identitas dan dapat diterima semua kalangan.

Sedangkan warna hitam dipilih karena Sukarno terinspirasi oleh salah satu penguasa di Eropa, yang menjadikan warna tersebut sebagai simbol kekuasan, keberhasilan, dan kedisiplinan. Di tangan Sukarno, warna hitam diubah menjadi simbol egaliter, solidaritas, dan perjuangan bangsa tertindas.
Secara psikologis, peci hitam adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Sedangkan secara sosiologis, peci hitam membawa pesan bahwa Bung Karno adalah seorang pemimpin revolusi yang benar-benar merakyat serta tulus berjuang untuk rakyat Indonesia. Sekaligus simbol untuk mempersatukan rakyat melawan penjajah, karena peci hitam melambangkan tiadanya kesenjangan antara pemimpin revolusi dengan rakyatnya.
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





