Penderitaan RM Said dan adik-adiknya berlanjut kala mereka beranjak remaja. Ketika RM Said meminta pekerjaan atau kesempatan untuk mengabdi kepada kerajaan melalui Patih Pringgoloyo—salah satu orang kepercayaan PB II yang memegang jabatan sebagai Perdana Menteri—dia tidak digubris. Dia malah diperlakukan bak pengemis dan diberi uang.
Karena merasa direndahkan, RM Said menolak uang pemberian Patih Pringgoloyo. Uang itu lantas diselipkannya di sebatang pohon. Sejak itulah muncul tekad dari RM Said untuk melawan pemimpin yang semena-mena.
Yang memberikan julukan “Pangeran Sambernyawa” kepada RM Said adalah Gubernur VOC Nicolaas Hartingh. Sang Gubernur menjulukinya seperti itu karena RM Said selalu “menyambar nyawa” atau membawa kematian bagi musuh-musuhnya dalam setiap peperangan.
Gubernur Direktur Jawa Baron van Hohendorff, yang berkuasa di masa hidup Pangeran Sambernyawa, juga memuji kehebatan sang pangeran. “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan, sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda. Keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di pedalaman. Panglima perang yang dikenal mumpuni. Selama hidupnya, tidak kurang 250 kali pertempuran dijalani dengan tidak menderita kekalahan berarti”.

Sukarno punya hubungan secara tak langsung dengan Pangeran Sambernyawa—selain soal kesamaan tanda luka di dahi. Berdasarkan Piagam Sentono Mangkunegaran No: 115/58/17.S, yang dikeluarkan pada 30 Oktober 1958 , tercatat bahwa RMP Soemohatmodjo, kakek angkat Sukarno, adalah cucu Pangeran Sambernyawa. Masih berdasarkan keterangan piagam tersebut, pendiri Situs Ndalem Pojok Kediri adalah trah kedua Pangeran Sambernyawa.
Dari keterangan sanad di piagam itulah ditemukan fakta soal keterkaitan spirit dan doktrin anti-penjajah yang membaluri jiwa, raga, dan pikiran Sukarno, di mana spirit itu bermula dari Pangeran Sambernyawa, diturunkan kepada RMP Soemohatmodjo, dan selanjutnya diajarkan kepada Sukarno.
Menurut keterangan keluarga Ndalem Pojok, berdasarkan dokumen Surat Keputusan (SK) Menteri Sosial No. Pol. 30/4-72/Pk, ada ajaran Pangeran Sambernyawa yang selalu dipegang teguh oleh RMP Soemohatmodjo dan diajarkan kepada Sukarno. Antara lain, sejak kecil Bung Karno dididik untuk benci kepada penjajah.
Salah satu indikasi bahwa Pangeran Sambernyawa adalah tokoh teladan dan inspirasi Sukarno juga bisa dilihat dari dimasukkannya salah satu ajaran Sang Pangeran dalam Pembukaan UUD NKRI 1945 oleh Sukarno: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.”
Para pemangku Situs Ndalem Pojok yang tergabung dalam Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTAI)—yang beranggotakan tokoh dan masyarakat lintas iman—rutin menggelar tasyakuran Hari Lahir Pangeran Sambernyawa. Agenda ini diadakan untuk mengingat kembali perjuangan Sang Pangeran, agar generasi muda bisa mewarisi semangatnya.
Serat Babad Nitik, catatan harian Pangeran Sambernyawa, rutin dibacakan dan diceritakan saat peringatan wetonan atau hari kelahiran Pangeran Sambernyawa kepada masyarakat. Acara itu biasanya dilanjutkan dengan zikir bersama, khataman Alquran, terbangan, gamelan, tari, selamatan, dan juga sedekah.
Sementara itu, luka di dahi yang sama-sama dimiliki Sukarno dan Khalifah Umar bin Abdul Azis diyakini sebagai lambang adanya kesamaan sifat antara keduanya. Imam Tirmidzi dalam Kitab Imam Suyuthi menulis bahwa Umar bin Khattab berpesan jika, “Akan ada anak keturunanku yang di wajahnya ada bekas luka. Dia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan”.
Umar bin Abdul Azis adalah keturunan Umar Bin Khattab dari jalur ibunya. Mungkin dialah yang dimaksud Umar bin Khattab. Dan Umar bin Abdul Azis dilaporkan punya cacat bekas luka di dahi akibat tendangan kuda sewaktu masih kanak-kanak.
Umar bin Abdul Azis—juga Pangeran Sambernyawa—dikabarkan suka sekali turun ke bawah dengan menyaru menjadi wong cilik, keliling masuk-keluar pasar, masuk-keluar kerumunan manusia, karena ingin dekat dengan rakyatnya sekaligus untuk mengetahui langsung kondisi masyarakat, sehingga bisa dijadikan bahan untuk menentukan kebijakan. Kebiasaan seperti itu juga dilakukan oleh Sukarno.





