Perburuan Koin Jagat sedang marak di berbagai wilayah Indonesia, menyebabkan kerusakan sejumlah fasilitas umum (fasum) dan tanaman. Fenomena ini menimbulkan keresahan pada masyarakat.
Video yang merekam sejumlah warga yang tampak beramai-ramai memburu Koin Jagat beredar luas di media sosial beberapa waktu belakangan. Potongan video tersebut menunjukkan sejumlah orang dewasa hingga anak-anak terlihat tengah sibuk mencari koin di pedestrian hingga taman pinggir jalan.
Video ini juga diunggah akun X resmi Bidang Humas Polda Jawa Timur. Akun tersebut mengatakan bahwa perburuan Koin Jagat itu tengah ramai di sejumlah kota, mulai dari Surabaya, Jawa Timur hingga Jakarta dan Bandung, Jawa Barat, serta Bali.
“Viral event koin jagad yg sedang ramai di jakarta, bandung, surabaya dan bali dengan nilai 300.000 – 100.000.000. Kami menghimbau agar tidak mudah termakan berita hoax dan jangan sampai merusak fasilitas umum !!!” demikian tulis unggahan tersebut, dikutip pada Rabu, 15 Januari 2025.
Koin Jagat adalah permainan digital, di mana pemainnya diharuskan untuk mengumpulkan sejumlah koin yang tersebar di berbagai tempat di dunia nyata. Untuk mendapatkan koin tersebut, para pemain harus mengunjungi sejumlah lokasi yang ditentukan dalam platform gim.

Cara mainnya seperti gim yang sempat tenar beberapa tahun lalu, Pokémon GO, di mana pemain dituntut untuk memburu sebuah objek.
Dalam Koin Jagat ada tiga jenis koin, yakni emas, perak, dan perunggu. Kabarnya koin-koin itu bisa ditukarkan dengan duit nyata.
Menyikapi fenomena ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyatakan bakal segera melayangkan surat permohonan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Kemenkomdigi) untuk melakukan pemblokiran terhadap aplikasi Jagat. Hal ini dilakukan sebagai langkah tegas untuk menghentikan fenomena pencarian Koin Jagat.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, tindakan tegas perlu segera dilakukan untuk menghentikan para pencari Koin Jagat. Sebab, melalui video yang beredar, banyak dari pemburu koin merusak fasum hingga memanjat pagar rumah warga. Hal tersebut membuat warga terganggu dan menjadi resah.





