Konflik bersenjata antara Israel-AS melawan Iran memanas. Pakar membeberkan penentu durasi perang dan ancaman krisis global.
Perang yang melibatkan kolaborasi Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran kini memasuki pekan kedua. Presiden AS, Donald Trump, memprediksi konflik berdarah ini akan selesai dalam kurun waktu empat hingga lima pekan. Sebaliknya, Iran bersikeras siap meladeni serangan Israel dan AS sampai kapan pun demi mempertahankan kedaulatan negaranya.
Melihat eskalasi yang terus meningkat, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, memetakan lima variabel krusial yang akan menentukan seberapa lama peluru dan rudal ini terus beterbangan.
Lima Variabel Penentu Nafas Perang
Hikmahanto menjelaskan, variabel pertama bertumpu pada stamina masing-masing pihak yang bertikai. Stamina ini tidak hanya menyangkut fisik prajurit, tetapi juga ketersediaan alutsista seperti rudal, drone militer, pesawat tempur, hingga ketahanan anggaran negara.
Selanjutnya, variabel kedua adalah dukungan politik domestik. Keputusan untuk terus bertempur atau mengibarkan bendera putih sangat bergantung pada restu politikus dan rakyat di masing-masing negara.
Lebih lanjut, Hikmahanto menyoroti variabel ketiga yang berpotensi memicu Perang Dunia. “Apakah perang Israel dan AS melawan Iran akan diikuti oleh negara lain? Negara-negara Teluk, Inggris, Prancis dan Jerman di satu sisi dan Rusia, China bahkan Korea Utara di sisi lain,” jelasnya, Jumat (6/3/2026).
Variabel keempat berkaitan erat dengan reaksi masyarakat internasional. Tekanan massa di era digital sangat masif. Netizen dari seluruh dunia bisa memicu gerakan isolasi hingga mendorong embargo ekonomi terhadap pihak yang bertikai.
Terakhir, kehadiran juru damai menjadi variabel kelima. Tanpa mediator, perang ini hanya akan berhenti jika salah satu pihak benar-benar kehabisan nafas.
”Peran mediator sejatinya sebagai penyelamat muka pihak yang berperang. Mereka di saat demikian membutuhkan exit strategy berupa pihak ketiga, untuk dimediasi agar tidak dipersepsikan sebagai pihak yang kalah perang,” sambung Hikmahanto.





