Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengecam kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Kanada. Trudeau menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan yang “sangat bodoh” dan berjanji akan melakukan perlawanan tanpa henti demi melindungi ekonomi negaranya.
Trump sebelumnya mengenakan tarif impor sebesar 25% terhadap produk yang masuk dari Kanada dan Meksiko, serta meningkatkan pungutan atas barang-barang dari Tiongkok. Menanggapi kebijakan tersebut, Kanada mengumumkan langkah balasan dengan mengenakan tarif terhadap ekspor AS dan memperingatkan bahwa perang dagang hanya akan merugikan kedua negara.
Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menegaskan bahwa kebijakan tarif balasan dari Kanada akan direspons dengan peningkatan tarif timbal balik oleh AS. “Tolong jelaskan kepada Gubernur Trudeau, dari Kanada, bahwa ketika ia mengenakan Tarif Balasan terhadap AS, Tarif Timbal Balik kami akan segera meningkat dengan jumlah yang sama!” tulis Trump melansir laporan BBC, Kamis, 6 Maret 2025.
Trudeau menuding langkah Trump sebagai upaya untuk melemahkan ekonomi Kanada guna mempermudah aneksasi negara tersebut. “Itu tidak akan pernah terjadi. Kami tidak akan pernah menjadi negara bagian ke-51,” tegas Trudeau dalam konferensi pers, Selasa, 5 Maret 2025. Ia menambahkan bahwa Kanada akan bertindak tegas dan membuktikan bahwa perang dagang dengan negaranya tidak akan menghasilkan pemenang.
Selain Kanada, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum turut mengecam kebijakan tarif Trump. Sheinbaum menyatakan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan tersebut dan berjanji akan mengambil langkah balasan, baik dalam bentuk tarif maupun kebijakan non-tarif.
Dampak bagi Ekonomi
Penerapan tarif oleh AS diperkirakan akan menyebabkan lonjakan harga bagi konsumen, baik di dalam maupun luar negeri. Profesor ekonomi dari American International University, John Rogers, memperingatkan bahwa harga barang impor seperti buah-buahan, sayuran, minyak, dan gas akan mengalami kenaikan signifikan. “Harga bisa naik cukup cepat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Rogers menyatakan bahwa kebijakan tarif ini berpotensi merusak hubungan dagang jangka panjang antara AS, Kanada, dan Meksiko. “Ini seperti menusukkan jari Anda ke mata tetangga Anda,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam perang dagang seperti ini, tidak ada pemenang. “Semua pihak akan mengalami kerugian karena harga barang meningkat dan kualitas produk dapat menurun.”
Sebagai langkah balasan, Kanada menetapkan tarif sebesar 25% terhadap barang impor dari AS senilai C$155 miliar (US$107 miliar). Dari jumlah tersebut, tarif atas barang senilai C$30 miliar akan berlaku segera, sementara tarif atas sisa produk senilai C$125 miliar akan diberlakukan dalam 21 hari ke depan.
Menteri Imigrasi Kanada, Marc Miller, memperingatkan bahwa kebijakan tarif ini dapat mengancam hingga satu juta lapangan kerja di Kanada, mengingat ketergantungan ekonomi Kanada terhadap perdagangan dengan AS. “Tidak mungkin kita mengganti ekonomi yang bertanggung jawab atas 80% perdagangan kita dalam semalam tanpa menanggung kerugian besar,” ujarnya.
Dampak nyata dari kebijakan ini mulai terasa di sektor otomotif. Seorang pekerja pabrik di Ontario, Joel Soleski, mengungkapkan kekhawatirannya akan kehilangan pekerjaan. “Saya baru saja membeli rumah pertama saya. Jika pabrik tutup, saya mungkin harus mencari pekerjaan di tempat lain,” katanya.
Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, juga mengkhawatirkan dampak kebijakan ini terhadap industri manufaktur mobil. “Pabrik perakitan kemungkinan akan tutup di kedua sisi perbatasan jika tarif terus berlanjut,” ujarnya.***





