Pangan yang Dijaga Leluhur

Masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam memikul padi gogo untuk dimasukan dalam leuit atau lumbung padi saat kegiatan Seren Taun di Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (05/10/2025). -- Dok. AFP/ Aditya Aji
Di tengah kecemasan global akan krisis pangan, Kasepuhan Gelar Alam justru menyimpan beras untuk puluhan tahun ke depan—dengan cara bertani yang nyaris tak berubah sejak leluhur mereka menanam padi pertama kali.

Selama puluhan tahun, masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam di pegunungan Banten Kidul menjaga satu keyakinan sederhana namun radikal: tanah adalah ibu, dan ibu hanya melahirkan sekali dalam setahun. Dari keyakinan itu lahir sistem tanam yang menolak percepatan, menyingkirkan eksploitasi, dan memelihara keseimbangan antara manusia, alam, dan waktu.

Warga Gelar Alam hanya menanam padi satu kali dalam setahun. Bukan karena keterbatasan teknologi, melainkan karena pilihan nilai. Saat sawah dibiarkan beristirahat, palawija ditanam secukupnya. Tanah diberi jeda, air dihemat, dan ekosistem dibiarkan pulih secara alami. Di sini, produktivitas tidak diukur dari seberapa sering panen dilakukan, melainkan dari seberapa lama kehidupan bisa dipertahankan.

Pertanian sebagai Laku Sakral

Bertani bagi masyarakat Kasepuhan bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan laku sakral. Setiap tahap ditautkan dengan aturan adat yang ketat. Traktor dan mesin modern tak digunakan. Alat-alat tradisional tetap dipilih, bukan karena nostalgia, melainkan karena dianggap paling selaras dengan alam pegunungan yang airnya terbatas dan tanahnya rapuh.

Bacaan Lainnya

Lebih jauh, hasil panen padi tidak boleh dijual. Larangan itu menjadi fondasi ketahanan pangan mereka. Padi hanya untuk hidup, bukan untuk diperdagangkan. “Padi bagi kami bukan hanya makanan, tapi juga nyawa,” ujar Dalang Dede, tokoh adat Kasepuhan Gelar Alam, Jumat (5/12/2025). Kalimat singkat itu merangkum pandangan dunia yang menempatkan pangan di luar logika pasar.

Aturan tersebut membentuk disiplin kolektif. Tidak ada spekulasi, tidak ada akumulasi berlebih. Padi diperlakukan sebagai amanah bersama—disimpan, dijaga, dan dibagikan bila diperlukan.

Siklus Tanam yang Menyatu dengan Waktu

Satu musim tanam padi di Gelar Alam bukan hanya rangkaian kerja fisik, melainkan perjalanan ritual yang teratur. Proses dimulai dari ngaseuk, penanaman benih pertama yang dipimpin langsung oleh Abah, pemimpin adat. Dari sana, tahapan demi tahapan dijalani bersama: mipit dengan etem—pisau kecil untuk memanen padi secara utuh—mabay, mipit pare, hingga dibuat, yang melibatkan hampir seluruh warga.

Pos terkait