Belakangan, marak fenomena di mana para pekerja muda enggan menduduki posisi manajemen struktural karena dinilai terlalu membebani kesehatan mental dan menyita waktu pribadi.
Posisi manajer, direktur, atau “bos” selama ini kerap dipandang sebagai puncak pencapaian karier tertinggi bagi generasi pendahulu. Namun, paradigma tersebut kini mulai bergeser di tangan Generasi Z (Gen Z).
Belakangan, marak fenomena di mana para pekerja muda enggan menduduki posisi manajemen struktural karena dinilai terlalu membebani kesehatan mental dan menyita waktu pribadi.
Menanggapi fenomena tersebut, pakar Psikologi Perkembangan Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Dewi Retno Suminar MSi Psikolog, memberikan analisis mendalam dari kacamata psikologis.
Menurutnya, keengganan ini berakar dari karakteristik psikologis unik Gen Z yang terbentuk oleh cepatnya paparan teknologi, pola asuh, hingga adanya pergeseran nilai dalam memaknai arti sebuah kesuksesan.
Dewi menjelaskan bahwa Gen Z tumbuh di era perubahan teknologi yang sangat masif. Terpaan informasi yang konstan membuat mereka memiliki kelebihan dalam bereaksi cepat dan mampu melakukan banyak hal sekaligus (multitasking). Namun, kondisi ini juga membawa tantangan psikologis tersendiri.
“Gen Z hadir ketika teknologi sedang berubah cepat, dengan terpaan bertubi-tubi tersebut membuat kesempatan mengendapkan informasi tidak sekuat dan selama generasi sebelumnya. Akibatnya secara psikologis sering panik, cemas dan ketika berinteraksi sosial sering menganggap energi sosialnya terkuras habis,” ungkap Dewi, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Kondisi inilah yang menjadi kendala utama saat Gen Z diminta memimpin, karena energi sosial yang dirasa harus dikuras serta kecemasan akan ketidakpastian terhadap apa yang dihadapi.
Pengaruh Pola Asuh
Selain faktor lingkungan digital, Dewi juga menyoroti adanya pengaruh dari pola asuh (parenting) orang tua zaman sekarang yang turut membentuk mentalitas ini. Banyak orang tua yang tanpa sadar memberikan terlalu banyak kemudahan ketimbang tantangan kepada anaknya karena dibayangi ketakutan berlebih terhadap kondisi sang anak di luar rumah.
“Orang tua dalam pengasuhan sering memberikan kemudahan dan bukan memberikan tantangan. Contohnya ketakutan anaknya tidak mampu melakukan, ketakutan anaknya di-bully, ketakutan anaknya tidak kuat mental ketika dimarahin guru dan lain-lain,” papar Dewi.
Jika generasi muda terus menolak posisi manajemen menengah (middle management), dunia industri diprediksi akan menghadapi krisis kepemimpinan dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Untuk mengatasinya, struktur organisasi tradisional berbentuk piramida diprediksi akan runtuh dan digantikan oleh model yang lebih mendatar (flat organization) atau manajemen matriks yang kolektif.
“Bisa jadi akan ada perubahan model struktur organisasi menjadi lebih fleksibel dengan lebih menekankan pada apa yang harus dilakukan. Bisa jadi hanya akan ada dua level, satu level konseptor dan satu level pelaksana di bawahnya. Menjadi lebih simple dan praktis. Perlu dipertimbangkan untuk menyederhanakan organisasi di perusahaan agar memudahkan komunikasi dan tidak perlu membuat menjadi berjenjang-jenjang,” tegas Dewi.***





