Pakar: Penemuan Ponsel Diplomat Kemenlu Arya Daru Bisa Jadi Faktor Kunci Pengungkapan Kasus

Ilustrasi. - AI/Samudrafakta
Keluarga menemukan akun WhatsApp dan Instagram Arya Daru aktif usai ia meninggal. Pakar hukum pidana dan telematika menilai ada kejanggalan besar dalam proses penyelidikan polisi.

Misteri kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (ADP), terus bergulir. Belakangan keluarga menemukan akun WhatsApp dan Instagram Arya masih sempat aktif setelah ia dinyatakan meninggal. Padahal, menurut kepolisian, ponsel milik Arya disebut hilang.

Kriminolog Universitas Indonesia, Haniva Hasna, menyebut keberadaan ponsel itu kunci penting dalam mengungkap penyebab kematian.

Dalam wawancara di program Apa Kabar Indonesia Petang tvOneNews pada Ahad, 27 Juli 2025, ia mempertanyakan mengapa hingga kini ponsel tersebut belum ditemukan.

Bacaan Lainnya

“Kalau sampah bisa ditemukan, kenapa HP tidak bisa ditemukan? Bukankah saat ini teknologi sudah cukup canggih untuk mengetahui posisi terakhirnya?” kata Haniva. Ia menekankan, ponsel bisa menyimpan jejak data pribadi yang mungkin membuka tabir misteri penyebab kematian Arya.

Beda Makna ‘Hilang’ dan ‘Tidak Ditemukan’

Pakar telematika, Abimanyu Wachjoewidajat, juga menyoroti pernyataan resmi polisi. Menurutnya, penggunaan kata “hilang” untuk menjelaskan keberadaan ponsel Arya adalah diksi yang menyesatkan.

“Bahasa itu salah. Kata ‘hilang’ hanya bisa dipakai pemilik. Kalau polisi yang bicara, istilahnya harus ‘tidak diketemukan’. Itu artinya kerja penyidikan belum tuntas,” kata Abimanyu dalam kanal Youtube Intens Investigasi, Ahad, 24 Agustus 2025.

Ia menilai pemilihan kata tersebut bukan sekadar permainan bahasa. “Kalau disebut hilang, masalah selesai. Tapi, kalau dikatakan tidak diketemukan, artinya polisi gagal menemukan bukti,” tegasnya.

Perlunya Kronologi Digital

Abimanyu menjelaskan, seharusnya melacak jejak digital sebuah ponsel modern bukan perkara sulit. Selama perangkat masih memiliki daya, keberadaannya bisa terdeteksi lewat BTS atau base transceiver station. Dari situ, publik seharusnya mendapat kronologi jelas: kapan ponsel terakhir aktif, apakah mati karena baterai habis atau sengaja dimatikan, dan lokasi terakhir keberadaannya.

“Minimal harus ada informasi area. Hilang di kelurahan mana, atau wilayah mana. Itu dasar sekali. Tapi polisi tidak bisa menyampaikan,” ujarnya.

Ketidakmampuan melacak ponsel, menurut Abimanyu, adalah titik lemah terbesar dalam penyelidikan. Di perangkat itu bisa tersimpan percakapan terakhir, data lokasi, atau petunjuk yang dapat membantah narasi bunuh diri.

Bagi keluarga, fakta bahwa ponsel Arya masih sempat aktif setelah kematiannya semakin memperkuat keyakinan bahwa misteri ini belum terungkap sepenuhnya. ***

Pos terkait