Ketua Dewan Komisioner sebut kerja sama ini untuk perkuat sinergi penegakan hukum. Stabilitas sektor jasa keuangan dinilai tetap terjaga meski global penuh tekanan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menggandeng Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri) . Langkah ini diambil untuk memperkuat penanganan tindak pidana di sektor jasa keuangan.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Maret 2026 OJK, Senin (6/4/2026).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi (Kiki), mengatakan bahwa perjanjian kerja sama telah ditandatangani. Tujuannya, meningkatkan sinergi dan koordinasi penegakan hukum.
“OJK dan Bareskrim Polri telah menandatangani perjanjian kerja sama dalam rangka penguatan sinergi penegakan hukum dan koordinasi terkait penanganan tindak pidana di sektor jasa keuangan,” ujar Kiki dalam RDKB secara virtual, Senin (6/4/2026).
Kebijakan Pasar Modal Tetap Relevan
Selain kerja sama dengan Bareskrim, OJK akan terus memantau pergerakan pasar. Koordinasi dengan self regulatory organization (SRO) pasar modal juga terus dilakukan.
Kiki menilai sejumlah kebijakan tetap relevan untuk menjaga stabilitas pasar saham. Di antaranya:
- Buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
- Penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling
- Kebijakan trading halt
- Batasan auto rejection
“Pada 13 Maret 2026, OJK dan perusahaan efek Indonesia telah menetapkan pemberlakuan kembali kebijakan-kebijakan tersebut,” kata dia.
Stabilitas Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Global
Kiki menyampaikan, dalam RDKB yang digelar pada 1 April 2026 lalu, OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga.
Namun, kinerja perekonomian global ke depan dihadapkan pada ketidakpastian yang meningkat. Eskalasi tensi geopolitik di kawasan Teluk disebut sebagai pemicu utama.
Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
OECD dalam interim economic outlook Maret 2026 memproyeksikan prospek perekonomian global berada pada jalur penguatan sebelum terjadinya perang. Namun realitasnya, ekonomi dunia kini mengalami koreksi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Suku Bunga AS Masih “High for Longer”
Tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral global. Ekspektasi “high for longer” kembali muncul.




