Obituari Jimmy Carter: Presiden AS yang Paling Keras Mengkritik Genosida Israel di Palestina

Presiden ke-39 Amerika Serikat Jimmy Carter Menunjukkan Buku berjudul , "Palestine: Peace, Not Apartheid," dalam sebuh acara penandatanganan buku di Tempe, Arizona, pada 12 Desember 2006. ( Foto: AP Photo/Paul Connors)

Buku ini memicu kontroversi besar, dengan banyak tuduhan antisemitisme diarahkan kepadanya. “Istilah ‘apartheid’ sangat akurat. Di wilayah Palestina, mereka sepenuhnya terpisah, bahkan lebih buruk daripada di Afrika Selatan,” jelas Carter dalam sebuah wawancara.

Meskipun menghadapi kritik, Carter menegaskan bahwa buku ini ditulis untuk memperingatkan Israel agar tidak jatuh ke dalam sistem penindasan permanen terhadap rakyat Palestina. “Perdamaian hanya akan tercapai jika pemerintah Israel mematuhi hukum internasional dan mengakhiri sistem penindasan,” tulis Carter dalam bukunya.

Selanjutnya, pada November 2016, menjelang akhir masa jabatan Presiden Barack Obama, Carter mendesak pemerintah AS untuk mengakui negara Palestina secara resmi. Ia menulis, “Pengakuan AS, keanggotaan di PBB, dan resolusi Dewan Keamanan yang berbasis pada hukum internasional akan menjadi dasar diplomasi masa depan.”

Bacaan Lainnya

Meskipun usulan ini tidak terlaksana, langkah ini menunjukkan dedikasi Carter terhadap penyelesaian konflik berdasarkan keadilan. Melalui Carter Centre yang didirikannya, Carter juga memfasilitasi dialog antara faksi-faksi Palestina, termasuk Hamas dan Fatah.

Ia percaya bahwa solusi damai membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk yang dianggap kontroversial. Carter juga berupaya menyembuhkan perpecahan antara Hamas dan Fatah, meskipun upaya ini tidak sepenuhnya berhasil.

Carter adalah sosok pemimpin yang tidak takut untuk mengambil risiko demi menciptakan perdamaian. Dalam wawancara dan tulisannya, ia konsisten menekankan bahwa perdamaian hanya bisa tercapai jika semua pihak mematuhi hukum internasional.

Ia menulis, “Perdamaian akan tercapai hanya ketika pemerintah Israel bersedia mematuhi hukum internasional dan mengakhiri sistem penindasan serta kekerasan yang terus berlangsung.”

Warisan Carter dalam mendukung Palestina adalah cerminan dari keberanian, integritas, dan dedikasinya untuk keadilan global. Meskipun sering kali disalahpahami dan dikritik, ia tetap menjadi simbol perjuangan untuk perdamaian yang adil di Timur Tengah.

Pos terkait