Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengaku yakin program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa mendorong permintaan terhadap hasil pertanian lokal. Permintaan ini, kata Rachmat, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
“Program makan bergizi akan mendorong permintaan baru terhadap hasil pertanian, pangan dan lapangan kerja, sarana dan prasarana logistik, dan permintaan ini akan menumbuhkan desa swasembada pangan, energi, dan air yang bersinergi dengan pengembangan hutan sebagai cadangan pangan, energi, dan air,” kata Rachmat, ketika memberikan sambutan dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) RPJMN 2025-2029, di Bappenas, Jakarta, Senin, 30 Desember 2024..
Program MBG juga disebut Rachmat akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas dan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Dengan demikian, menurut perhitungannya, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai kisaran 0,86 persen di awal tahun pertama RPJMN.
Rachmat juga menyebut program ini termasuk salah satu “Big Push Strategy” yang akan dapat langsung dirasakan manfaatnya dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
“Ini adalah contoh ‘Big Push Strategy’ yang langsung bisa dilaksanakan karena agregat demand yang besar diminta akan menimbulkan supply juga yang besar. Jadi, demand create supply ini akan menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa,” kata Menbappenas
Program MBG bakal dimulai pada tahun 2025. Namun demikian, hal-hal teknis terkait program ini dinilai belum klir. Pemerintah kota di seluruh Indonesia menyatakan masih belum tahu petunjuk teknis (juknis) pelaksanaannya.
Kebingungan pemkot itu terungkap dalam diskusi daring bertajuk “Perencanaan, Penganggaran, dan Pelaksanaan Program Bergizi Gratis”, yang dihelat pada Senin, 23 Desember 2024. Acara diadakan oleh Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) dan Forum Bakti.
Dalam forum tersebut, Direktur Eksekutif APEKSI Alwis Rustam mengaku jika pemerintah daerah masih menunggu juknis MBG di daerah.***





