Willy Aditya melintasi jalan panjang dari aktivis jalanan ber-IPK nol koma hingga Senayan. Kini, politisi NasDem ini mendedikasikan hidupnya merawat peradaban lewat jalan sunyi literasi, dari lereng Kaliurang hingga ke balik jeruji besi.
Sorot matanya tajam, suaranya lantang saat berdebat, dan keberaniannya tak pernah diragukan. Siapa sangka, di balik perawakan garang dan rekam jejaknya sebagai mantan aktivis demonstran penentang rezim, Willy Aditya adalah sosok puitis yang tak bisa hidup tanpa buku.
Lahir di Kampung Jawa, Solok, Sumatera Barat, pada 12 April 1978, Willy tumbuh sebagai anak cerdas yang gemar berkelahi. Nilai ujian nasional SMP-nya nyaris sempurna, 9,98. Namun, takdir membelokkan jalan hidupnya. Impiannya masuk SMA Taruna Nusantara kandas akibat ditabrak orang mabuk saat hendak mendaftar. Sang ayah, Syamsuddin Lubis, dan ibunya, Asna Hasan, akhirnya mengirim Willy ke SMA Plus INS Kayutanam.
Di sekolah yang didirikan Engku Muhammad Sjafei inilah, karakter Willy ditempa. Di bawah asuhan sastrawan legendaris A.A. Navis yang kala itu memimpin sekolah, keliaran Willy berevolusi menjadi dahaga intelektual yang tak berujung.
Kepada jurnalis Samudrafakta, Sabtu (19/9/2026), Willy membagikan sebuah rahasia kecil yang terus dipegangnya hingga hari ini. Saat saya mengorek sejak kapan tradisi membacanya tumbuh begitu mengakar, ia tersenyum simpul.
“Saya diajari guru SMA saya, sastrawan A.A. Navis. Dia mengajari agar 50 persen dari uang saku, belikan buku. Saya praktikkan petuah itu sampai ketika saya kuliah di UGM,” kenang Willy.
Bertahan Hidup dengan Rp50 Ribu dan IPK Nol Koma
Tahun 1997, Willy menginjakkan kaki di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Uang saku bulanannya hanya Rp100 ribu. Berpegang teguh pada ajaran A.A. Navis, Rp50 ribu ia habiskan untuk buku, sisanya untuk bertahan hidup di Kota Pelajar.
Bagaimana ia bertahan? “Saya jadi marbot di masjid. Saya azan, rajin membersihkan masjid, sehingga sering diberi makan oleh ibu-ibu sekitar,” ceritanya sambil tertawa. Bahkan, demi membeli buku legendaris Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno seharga Rp90 ribu, ia rela berjalan kaki berhari-hari dan berburu honor dari menulis makalah seminar.
Di kampus biru, darah pergerakannya mendidih. Ia mendirikan berbagai kelompok studi, menghidupkan kembali pers mahasiswa “Lumut”, hingga memimpin ribuan massa Front Mahasiswa Nasional (FMN). Totalitasnya di jalanan memakan korban: IPK-nya anjlok menjadi “nol koma”. Ia akhirnya di-DO (Drop Out) langsung oleh Rektor UGM. Lucunya, Dekan Kehutanan kala itu tak berani memecatnya karena merasa berutang budi pada Willy yang sukses menghidupkan iklim intelektual fakultas.
Namun, Willy tak menyerah. Pada 2001, ia kembali berkuliah di Fakultas Filsafat UGM. Di jurusan inilah ia menemukan rumah sejatinya, lulus dengan IPK 3,8, lalu melanjutkan S-2 double degree di ITB dan Cranfield University, Inggris. Keberhasilannya merampungkan studi tak lepas dari peran Yemmi Livenda, teman masa SMP yang kelak dinikahinya dan memberinya tiga buah hati. Yemmi jugalah yang sabar mendampingi Willy saat ia memilih “bunuh diri kelas” dengan tinggal di kawasan kumuh Tangerang demi mengadvokasi buruh.
Jalan Restorasi dan Kursi Senayan
Perjalanan waktu membawa Willy pada realitas politik praktis. Pertemuannya dengan Surya Paloh membuka lembaran baru. Tak banyak yang tahu, slogan ikonis “Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia” milik Partai NasDem adalah hasil dialektika pemikiran Willy.
Melalui Partai NasDem, eksponen ’98 ini melenggang ke Senayan pada Pemilu 2019 dan kembali terpilih. Di DPR, tajinya tak tumpul. Saat menjabat Wakil Ketua Baleg DPR, ia gigih memperjuangkan revisi UU Pendidikan Kedokteran. Ia menentang feodalisme dan liberalisme di fakultas kedokteran yang memberatkan retaker (mahasiswa yang belum lulus UKMPPD) dan mahasiswa miskin dari daerah 3T.
“Republik ini lahir dari tangan dokter. Kita harus memanusiakan sistem pendidikan kedokteran. Jadilah dokter yang humanis, dokter yang membela rakyat,” tegasnya di sebuah forum diskusi.
Menyalakan “Lilin Literasi” di Republik
Kini, menjabat sebagai Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy mengubah haluan perjuangannya ke medan yang lebih sunyi namun fundamental: literasi.
Di lereng Gunung Merapi, ia membangun Ruang Literasi Kaliurang (RLK) yang diresmikan Februari 2025. Perpustakaan pribadi berisi lebih dari 25.000 buku miliknya disulap menjadi ruang publik dua lantai yang gratis dan terbuka untuk siapa saja. “Buku itu barang publik. Literasi bukan hanya baca tulis, tapi berdialektika dan melahirkan critical thinking,” tuturnya.
Gerilya literasinya tak berhenti di Kaliurang. Di Kompleks Parlemen, ia menginisiasi Pojok Baca bagi office boy (OB) dan Pamdal, membagikan buku harian agar mereka mulai menulis. Di Lapas Cipinang, ia memotori Fraksi NasDem menyumbangkan ribuan buku untuk warga binaan, meyakini bahwa penjara bisa menjadi rahim bagi lahirnya karya besar, seperti yang pernah dibuktikan Tan Malaka, Buya Hamka, dan Pramoedya.
Saat wawancara menjelang usai, Samudrafakta menanyakan pandangannya tentang masa depan literasi di Indonesia yang kerap dianggap suram. Willy menatap lekat, nadanya merendah namun penuh determinasi.
“Meski berat, kita harus tetap optimis menjadi lilin-lilin kecil yang membawa secercah cahaya untuk menghidupkan literasi di republik ini. Saya akan bantu sekuat tenaga memperjuangkan RUU Perbukuan yang memihak dan menghadirkan rasa keadilan bagi penulis dan penerbit,” jawabnya mantap.
Ia menyoroti beban anak-anak Indonesia yang kerap stres karena kurikulum yang padat, dan membandingkannya dengan tradisi Skandinavia serta Jepang.
“Siswa SD di sana itu hanya diajarkan bermain, bereksplorasi, dan membaca. Lihat anak-anak kita, mengeluh, punggungnya bisa terserang skoliosis karena menggendong buku pelajaran yang super banyak. Kebijakan kurikulum pendidikan harus dibenahi secara perlahan,” pungkasnya.
Dari seorang demonstran jalanan yang tak segan beradu fisik, Willy Aditya kini memilih jalan peradaban. Lewat buku-buku dan ruang-ruang baca yang ia bangun, sang mantan mahasiswa “nol koma” ini tengah merajut kembali kewarasan dan masa depan republik.***





