Netanyahu Tuduh Hamas Langgar Perjanjian, Kesepakatan Damai Tertahan

Warga Gaza menanti realisasi gencatan senjata antara Hamas dan Israel. (Tangkapan Layar Al-Jazeera)

Namun, Hamas menegaskan tidak akan membebaskan seluruh sandera kecuali ada gencatan senjata permanen dan penarikan penuh Israel. Sementara Israel tetap berkomitmen untuk menghancurkan kekuatan Hamas dan mempertahankan kontrol keamanan di Gaza.

Sejak awal perang, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 46.000 orang tewas, mayoritas wanita dan anak-anak. Israel mengklaim telah membunuh lebih dari 17.000 militan tanpa memberikan bukti terperinci.

Serangan udara intensif Israel memicu kecaman internasional, termasuk dari Amerika Serikat, karena tingginya korban sipil.

Bacaan Lainnya

Di tengah tekanan dunia, Mahkamah Internasional menyelidiki dugaan genosida Israel, yang diajukan oleh Afrika Selatan. Pengadilan Kriminal Internasional juga telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu atas dugaan kejahatan perang.

Namun, Israel dan Amerika Serikat menolak legitimasi kedua pengadilan tersebut.

Jalan Panjang Rekonsiliasi

Dengan situasi di Gaza yang terus memburuk, prospek damai tampak suram.

Hamas, meski telah kehilangan banyak pemimpin, termasuk Yahya Sinwar, terus mengonsolidasikan kekuatan di wilayah yang terdampak. Jika kesepakatan gencatan senjata gagal, konflik berkepanjangan dengan potensi pemberontakan baru sulit dihindari.

Perdana Menteri Netanyahu kini berada dalam posisi sulit. Ia harus menghadapi tekanan domestik yang menuntut pembebasan sandera sekaligus mempertahankan dukungan dari mitra koalisi sayap kanan yang menolak konsesi besar terhadap Hamas.

Di balik harapan akan perdamaian, tantangan diplomatik dan kemanusiaan masih menanti solusi.***

Pos terkait