Perundingan 21 jam di Islamabad berakhir tanpa hasil. AS lalu mengumumkan blokade kapal terkait pelabuhan Iran, Inggris menolak ikut, dan Teheran mengancam merespons keras.
Pembicaraan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu, 12 April 2026, setelah berlangsung sekitar 21 jam. Kegagalan itu mengguncang nasib rencana gencatan senjata dua pekan, yang dimediasi Pakistan.
Presiden AS Donald Trump, sebagaimana dikutip dari Reuters, kemudian mengumumkan Angkatan Laut AS akan memblokade lalu lintas kapal terkait Iran di Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat AS meluruskan bahwa tindakan itu berlaku untuk semua kapal yang masuk ke dan keluar dari pelabuhan Iran mulai Senin, 13 April 2026, pukul 10.00 waktu timur AS, bukan menutup seluruh selat.
Seusai pengumuman itu, harga minyak melonjak. Minyak mentah AS tercatat naik delapan persen ke USD104,24 per barel, sementara Brent naik tujuh persen ke USD102,29 per barel.
Negosiasi Gagal
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan delegasi Amerika pulang tanpa hasil karena Iran menolak menerima “tawaran final dan terbaik” dari Washington. Mengutip laporan The Guardian, salah satu ganjalan utamanya adalah tuntutan AS agar Iran memberikan komitmen untuk tidak mengejar senjata nuklir.
Di pihak lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuding AS gagal membangun kepercayaan delegasi Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menuduh negosiator Amerika mengubah posisi saat nota kesepahaman disebut tinggal selangkah lagi.
Inggris Ambil Jarak
Sementara itu, Inggris menyatakan tidak akan ikut dalam blokade pimpinan AS. London menegaskan posisinya tetap mendukung kebebasan navigasi dan pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz, sambil mendorong jalan diplomatik.
Pemerintah Inggris, dalam laporan The Guardian, juga disebut menjajaki koordinasi dengan Prancis dan mitra lain untuk menjaga keselamatan pelayaran, tanpa terlibat dalam blokade.
Sementara itu, Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dipandang sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dan akan dihadapi dengan respons “keras dan tegas”.
Ancaman itu menandai betapa rapuhnya jeda tempur yang masih disebut berlaku hingga 22 April 2026.
Dengan perundingan yang buntu, blokade terbatas dari AS, dan ancaman balasan dari Iran, risiko salah perhitungan di perairan paling strategis dunia kini kembali membesar.***





