Gencatan senjata Iran vs AS–Israel telah diumumkan pada 8 April 2026. Namun di lapangan, Selat Hormuz belum benar-benar terbuka. Jalur energi paling vital di dunia itu masih dalam kendali ketat Iran—setiap kapal wajib mengantongi izin, setiap lintasan dikendalikan, setiap pergerakan diawasi. Hasilnya: lalu lintas tetap seret, nyaris tersendat.
Dampaknya merambat pada rantai pasok global. Tarif sewa kapal tanker melonjak empat kali lipat—dari sekitar US$200.000 menjadi US$800.000 per hari. Untuk supertanker, premi melonjak jauh lebih tinggi, berkisar US$2–14 juta per pelayaran. Angka-angka itu bukan sekadar statistik; ia mencerminkan tingkat risiko yang kini ditanggung industri pelayaran dunia.
Gangguan tak berhenti di sektor energi. Laman hormuzstraitmonitor menyebutkan bahwa rantai pasokan LNG global ikut terputus. Sekitar 20.000 pelaut tertahan di kapal-kapal yang tak bisa bergerak, menghadapi tekanan psikologis dan keterbatasan logistik di tengah ketidakpastian. Di darat, efeknya merambat ke sektor pangan.
Sekitar 30–35 persen pupuk dunia biasanya melintasi Selat Hormuz. Ketika jalur itu tersumbat, ancaman terhadap produksi pertanian—terutama di negara berkembang—ikut membesar.
Sementara itu, pengiriman kontainer juga terpukul. Sekitar 470.000 TEU tertahan di kawasan tersebut. Sejumlah rute pelayaran utama terpaksa memutar melalui Cape Cod, memperpanjang waktu tempuh hingga 2–3 minggu dan mendorong kenaikan biaya logistik sebesar 8–12 persen.
Melansir laporan Al Jazeera Jumat, 10 April 2026, aktivitas pengiriman di Selat Hormuz praktis belum pulih meski gencatan senjata telah diumumkan. Harapan akan pemulihan cepat pun memudar.
Data pelacakan kapal menunjukkan betapa terbatasnya pergerakan yang terjadi. Pada Rabu, hanya lima kapal yang melintas—turun dari 11 kapal sehari sebelumnya. Kamis, jumlah itu naik tipis menjadi tujuh kapal. Jauh di bawah kondisi normal. Lebih dari 600 kapal, termasuk 325 tanker, masih tertahan di kawasan Teluk, menurut Lloyd’s List Intelligence. Mereka menunggu kepastian yang belum juga datang.
Analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, menyebut lalu lintas masih sangat terbatas. Bahkan jika gencatan senjata bertahan, kapasitas aman diperkirakan hanya berkisar 10–15 pelayaran per hari. “Pemilik kapal akan tetap berhati-hati. Risiko masih terlalu tinggi,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menangani sekitar 120–140 pelayaran per hari dan mengalirkan hampir seperlima pasokan minyak serta LNG global. Namun sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, ritme itu runtuh.
Ketegangan politik memperparah situasi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuduh Iran tidak memenuhi komitmen gencatan senjata, termasuk membuka jalur aman pelayaran. “Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk… itu bukan kesepakatan yang kita miliki!” tulisnya.
Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai Washington justru mengingkari kesepakatan. Ia juga mengaitkan situasi ini dengan serangan Israel di Lebanon. “Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS,” katanya.





